Antisipasi Kecurangan Tes Rekrutmen Karyawan, Bisa Dicoba Pakai AI

Jakarta (NGABARIN) – Setelah tunjangan hari raya (THR) cair, perusahaan biasanya menghadapi gelombang resign tahunan. Bagi divisi human resource (HR), ini berarti mereka harus kejar tayang pengisian posisi.

Namun, di tengah tekanan waktu, proses rekrutmen yang dilakukan tergesa-gesa ternyata dapat berdampak pada proses rekrutmen yang kurang terpantau dan berujung salah rekrut.

Fenomena gelombang resign ini terpotret pada beberapa hasil penelitian. Survei Gallup 2024, misalnya, mencatat 52% pekerja Indonesia sedang aktif mencari pekerjaan baru. Tren ini menjadikan Indonesia sebagai negara dengan tingkat niat resign tertinggi keempat di ASEAN.

Sedangkan Laporan Jobstreet by SEEK juga menunjukkan peningkatan aktivitas pencarian kerja sebesar 5,3% sepanjang 2024 dibanding tahun sebelumnya.

“Proses rekrutmen yang tergesa-gesa sering membuat perusahaan kecolongan, terutama jika dilakukan prosesnya secara online. Masih ada kasus-kasus dimana kandidat pencari kerja mencoba-coba mencari joki atau dibantu dalam mengerjakan tes online.,” ujar Direktur Human Care Consulting (HCC), Kartika Amelia, dalam keterangannya, Selasa (29/04/2025).

Untuk mengatasi persoalan ini, kata Amelia, HCC menawarkan sistem pengawasan tes online berbasis kecerdasan buatan (AI) yang disebut “AI Based Proctoring”.

AI Based Proctoring adalah sebuah metode pengawasan otomatis berbasis AI (Artificial Intelligence) yang bertujuan memastikan peserta tidak melakukan kecurangan.

Proctoring sendiri merupakan metode pengawasan ujian atau tes yang bertujuan memastikan peserta tidak melakukan kecurangan. Metode ini dapat dilakukan secara manual oleh pengawas (human proctoring), baik secara tatap muka maupun melalui platform seperti Zoom, namun berpotensi memakan biaya dan waktu, serta rentan terhadap human error. Alternatifnya adalah system based proctoring, yang menggunakan pemantauan layar dan sistem otomatis untuk mendeteksi aktivitas mencurigakan.

Sementara AI Based Proctoring bisa mengenali wajah, gerakan, atau tindakan tidak wajar, seperti membuka perangkat lain atau kehadiran orang lain di depan kamera, tanpa memerlukan intervensi manusia. Teknologi ini memantau peserta selama tes berlangsung dan mampu mendeteksi indikasi kecurangan secara real time termasuk jika peserta dibantu pihak lain, membuka jendela lain di layar, atau melakukan kontak luar layar.

“Bukan hanya hasil tes, proses kandidat mengikuti tes pun menjadi hal penting yang perlu menjadi perhatian. Jika dari awal kandidat atau peserta tes sudah mencoba melakukan kecurangan, integritas dan kredibilitasnya pun perlu dipertanyakan.” Lanjut Kartika Amelia.

Teknologi ini menjadi andalan HCC dalam menjaga kualitas dan integritas proses seleksi digital yang sangat menentukan keberhasilan proses rekrutmen.

Pasalnya, berdasarkan laporan Harvard Business Review (2023) menyebutkan, 30-50% karyawan baru gagal bertahan lebih dari 18 bulan yang sudah terlihat dalam 3-6 bulan pertama. Kegagalan itu disebabkan oleh proses rekrutmen yang terburu-buru dan kurangnya penilaian mendalam terhadap karakter serta kompetensi teknis kandidat.

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU