Bukan Cuma Suara Keras, Ini Faktor Tak Terduga Penyebab Kerusakan Telinga

JAKARTA (Ngabarin.net)— Pakar neurologi di The Ohio State University Wexner Medical Center, Nick Andresen, membagikan sejumlah faktor yang dapat mengganggu kemampuan pendengaran selain faktor usia dan paparan suara keras.

“Gangguan pendengaran tidak selalu disebabkan oleh penuaan atau paparan suara bising yang jelas. Paparan kebisingan memang salah satu penyebab yang paling dikenal, tetapi itu hanya sebagian dari gambaran keseluruhan,” kata Andresen pada Ahad, 4 Oktober 2026.

Selain suara keras, faktor gaya hidup seperti merokok tidak hanya meningkatkan risiko gangguan pendengaran, tetapi intensitas paparan asap rokok yang makin tinggi juga dikaitkan dengan tingkat kerusakan telinga yang makin parah.

“Mekanisme pastinya belum sepenuhnya dipahami, tetapi kemungkinan melibatkan berkurangnya pasokan oksigen ke telinga bagian dalam serta kerusakan akibat bahan kimia beracun dalam asap rokok,” tutur Andresen.

Ia menambahkan bahwa keputusan untuk berhenti merokok dapat mengurangi atau bahkan berpotensi membalikkan sebagian dari risiko kerusakan tersebut.

Beberapa jenis obat-obatan juga dapat berkontribusi terhadap gangguan pendengaran, contohnya obat antiinflamasi nonsteroid atau NSAID (nonsteroidal anti-inflammatory drugs) seperti aspirin dan ibuprofen yang umum digunakan untuk meredakan nyeri serta menurunkan demam.

Menurut Andresen, obat-obatan tersebut dapat berkontribusi memicu gangguan pendengaran apabila digunakan secara rutin selama bertahun-tahun atau dalam dosis yang lebih tinggi dari yang dianjurkan.

Meskipun mekanisme pastinya belum sepenuhnya dipahami, pemakaian dosis tinggi kemungkinan besar merusak neuron pendengaran yang bertugas mengirimkan sinyal suara dari telinga ke otak.

Konsumsi aspirin berlebih juga dapat menyebabkan gangguan pendengaran sementara dan tinnitus, yaitu kondisi yang menimbulkan sensasi suara berdenging atau berdengung di dalam telinga. Ia menambahkan bahwa penggunaan NSAID yang sesuai dengan dosis anjuran tetap tergolong aman.

“Namun, efek tersebut biasanya hanya berlangsung singkat dan akan menghilang setelah obat dikeluarkan dari tubuh,” kata Andresen.

Faktor risiko kesehatan lainnya seperti tekanan darah tinggi juga dapat memengaruhi kondisi telinga. Tekanan darah tinggi dapat merusak pembuluh darah kecil serta sel-sel rambut di telinga bagian dalam yang berfungsi mengubah getaran suara menjadi sinyal saraf.

Berkurangnya aliran darah berisiko mengurangi pasokan darah ke koklea, yakni organ pendengaran yang berada di telinga bagian dalam, sehingga dapat menyebabkan gangguan pendengaran secara bertahap maupun mendadak.

Secara keseluruhan, kondisi kesehatan tubuh seseorang memengaruhi kemampuan pendengaran, terutama faktor-faktor tertentu seperti penggunaan obat, penyakit diabetes, kesehatan kardiovaskular, infeksi, serta cedera kepala yang merusak pembuluh darah dan sel saraf sensitif di telinga.

Andresen mengingatkan masyarakat agar tidak meremehkan dampak akumulatif dari suara yang didengar sehari-hari. Penggunaan headphone, alat pertukangan listrik, hingga mesin pemotong rumput berpotensi merusak pendengaran.

“Sebisa mungkin, batasi paparan terhadap suara keras. Jika tidak dapat dihindari, gunakan pelindung pendengaran ketika berada di lingkungan yang bising, seperti saat menghadiri acara olahraga, konser, atau berada di sekitar mesin yang mengeluarkan suara keras,” ujar Andresen.[]

Sumber: Antara

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU