Studi Terbaru: Perubahan Nada dan Volume Suara Bisa Jadi Sinyal Dini Demensia

JAKARTA (Ngabarin.net)— Penelitian terbaru dari Drexel University College of Medicine di Philadelphia menunjukkan bahwa gangguan suara, termasuk perubahan pada tinggi rendahnya nada, volume, atau kejernihan suara, dapat mengindikasikan kemungkinan lebih tinggi seseorang mengalami demensia atau gangguan kognitif.

“Kami menemukan hubungan paling kuat dengan demensia pada pasien yang mengalami gangguan suara dan gangguan pendengaran,” kata Robert Sataloff, profesor sekaligus ketua di Drexel University College of Medicine pada Minggu, 4 Oktober 2026.

Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Voice tersebut melibatkan 833.417 peserta berusia 50 tahun ke atas untuk meneliti hubungan antara gangguan suara, gangguan pendengaran, atau kombinasi keduanya dengan risiko gangguan kognitif atau demensia, termasuk penyakit Alzheimer.

Penilaian medis mulai dilakukan satu tahun setelah para peserta didiagnosis mengalami gangguan suara dan gangguan pendengaran.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa peserta yang mengalami gangguan suara tanpa gangguan pendengaran memiliki kemungkinan 58 persen lebih tinggi mengalami demensia atau gangguan kognitif di kemudian hari. Sementara itu, peserta yang mengalami gangguan suara sekaligus gangguan pendengaran memiliki risiko 104 persen lebih tinggi.

Pada seluruh peserta yang mengalami gangguan suara, baik disertai gangguan pendengaran maupun tidak, terdapat peningkatan risiko sebesar 29 persen untuk mengalami demensia. Sementara peserta yang hanya mengalami gangguan pendengaran memiliki risiko 27 persen lebih tinggi.

“Kami menemukan bahwa mereka yang mengalami gangguan suara tanpa gangguan pendengaran memiliki risiko lebih tinggi dibandingkan pasien yang hanya mengalami gangguan pendengaran,” kata Sataloff.

Contoh gangguan suara tersebut antara lain laringitis, kelumpuhan pita suara, lesi pita suara, serta disfonia spasmodik atau distonia laring, menurut data Cleveland Clinic.

Terlepas dari hubungan antara gangguan suara dan demensia, para peneliti mencatat bahwa mencari pengobatan medis untuk mengatasi gangguan suara dapat memberikan manfaat positif bagi kesehatan otak.

Gangguan pendengaran dan kesulitan berbicara sering kali membuat seseorang enggan bersosialisasi. Padahal, sejumlah penelitian membuktikan bahwa keterlibatan dalam aktivitas sosial dapat menstimulasi otak dan berperan aktif mencegah munculnya demensia.

Sataloff menegaskan bahwa hubungan antara gangguan suara serta gangguan pendengaran dengan penurunan fungsi kognitif merupakan hal yang wajar. Menurut dia, orang yang merasa sakit atau tidak nyaman saat berbicara cenderung lebih jarang berpartisipasi dalam aktivitas sosial yang mendukung fungsi otak.

Meski demikian, para peneliti menggarisbawahi bahwa mengalami gangguan suara tidak selalu berarti seseorang pasti menderita gangguan kognitif di masa depan. Gangguan suara juga tidak selalu menjadi tanda tunggal munculnya penurunan fungsi otak maupun penyakit Alzheimer.[]

Sumber: Antara

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU