Merdeka Palsu?

Indonesia tengah disergah kepalsuan. Sampai mantan kepala negara ijazahnya diduga keras dan kerap, palsu! Hingga satu dekade lewat tersembunyi, tak ketahuan.

Maka, kepalsuan itu juga meluruh dan menular ke bahan bakar produksi perusahaan kebanggaan negara PT Pertamina Tbk. Dimulai kapan sesungguhnya sudah lama juga tak ketahuan. Standard mutu Pertamax dibuat pertalite dan pertalite menjadi premium yang sudah lama hilang. Daya gerak kendaraan otomotif tak terhitung jadi rusak. Itu juga menjadi sinyal pertanda daya gerak bangsa pun tengah porak-poranda berantakan.

Itu perilaku jahat luar biasa, extraordinary crime. Artinya, sama saja korupsi berskala tak terhitung. Tetapi, ironisnya di negeri ini sanksi hukumnya nanti amat terhitung. Tergantung cuan berapapun yang gampang dihitung!

Pun untuk produk yang paling pokok bagi isi perut bangsa ini. Tak peduli tanpa kecuali. Betapa bangsatnya! Sampai berani beras dioplos, dipalsu. Padahal, resiko taruhannya bangsa ini bisa ambruk, hancur, bahkan binasa!

Atau balik lagi ke perusahaan negara PT. Antam Tbk, emas dipalsukan, emas dioplos. 22 atau 18 karat dioplos dipalsu jadi 24 karat. Orang yang jadi korban kepalsuan ini pasti akan sekarat! Lantas, apakah bangsa ini juga tengah sekarat?

Ya! Namun gak usah disclaimer kemana-mana dulu. Lihat yang inti dan pokok masalahnya saja. Pondasi hukum bangsa ini tengah dieliminasi dari fungsinya, rightstated. Dikerdilkan, dipinggirkan sepinggir-pinggirnya. Sekarang sudah berada di tepian jurang.

Yang berkuasa hukum machstated. Jadilah, Pancasila palsu. UUD 1945 palsu. Saking segala kepentingan hukum untuk kekuasaan. Sistem Presidential pun jadi presiden sial! Dari istananya dibangun relasi satu komando. Otoritarianisme perlente otoriter. Menyingkirkan relasi Trias Politika.

Maka, menjelmalah parlemen DPR menjadi Dewan Perwakilan Rezim. MK jadi Makhamah Keluarga. Atau MA malah jadi Makhamah Asu. Karena dirantai oleh ‘Parcok’ yang atasannya sesungguhnya bukan Kapolri yang jadi boneka badut beruam kegatelan, tetapi dari istana langsung!

Sangat parah dan mengerikannya, satu komando itu ternyata memiliki satu tujuan sangat jahat membuat blue print kriminalisasi perkolusian. Perkongsian alias persekongkolan! Persekongkolan antara mereka elit berkuasa atas nama “negara” dengan oligarki. Alias, korporasi konglomerasi raksasa penguasa perekonomian negeri yang terus menguras tanpa ampun, berburu rent seeking!

Maka, dari situ sangat mudah bertunas dan bersemai sangat subur korupsi dan nepotisme. Saking serakah dan rakusnya, sampai mereka para elit politik penguasa melupakan fungsi negaranya sendiri. Negara berstatus dijual dan terjual bila perlu. Sudah tak peduli!

Jangankan berpikir: negara itu alat pengantar kesejahteraan rakyatnya. Itu sudah jadi utopia odong-odong yang berjalan sangat lambat bak bekicot yang bawa rakyat penumpangnya keblangsak ke dalam jalan-jalan disparitas keterbelakangan dan kemiskinan semakin akut!

Negara odong-odong NKRI itu boleh jadi akan berubah dalam waktu singkat kendaraan bermesin jet menjadi Negara Kesatuan Oligarki Indonesia. Dikarenakan poros sumbunya berkiblat ke RRC-Tiongkok negara maharaja baru penguasa perekonomian dunia. Dan itu hanya menjadi milik mereka. Bukan rakyatnya!

Maka, tema euforia Dirgahayu Kemerdekaan ke-80 RI tengah dilanda dan dirundung kesergahan segala kepalsuan. Yang tengah menikmati kesejahteraan kemerdekaan sesungguhnya hanya segelintir kaum elite berkuasa dan oligarki. Tetapi bagi rakyat itu sesungguhnya hanya sebagai merdeka palsu.

Sumbangsih mereka kaum elit kaya berkuasa itu sudah sangat keterlaluan hanya menebar di bilboard, videotron maupun di paltform digital media sosial: khayalan harapan utopia dalam propaganda mengkamuflase dan menutupi kejahatan mereka!:

Bersatu Berdaulat kepada asing; Rakyat Sejahtera sesungguhnya tengah kembali ke Pra sejahtera karena Bank Dunia menempatkan Indonesia sebagai negara termiskin kedua dunia setelah Zimbabwe; Indonesia Maju itu dalam korupsi karena jelas OCCRP sudah mendaulat mantan Presidennya dalam ranking nomor kedua terkorup!

Jadi, bagi mereka adanya merdeka palsu itu takkan diambil pusing. Toh rakyatnya pun tak ambil pusing. Padahal, sesungguhnya sudah kepusingan dengan urusan keseharian. Termasuk, betapa pusingnya mengurusi dan mendapati bagaimana caranya tetap bisa makan untuk esok hari! Wallahua’lam Bisshawab.[]

Babakan Mustikasari, Bekasi, 7 Agustus 2025

Dairy Sudarman, Pemerhati politik dan kebangsaan.

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU