Ibu dan Arah Masa Depan Umat

“Ribuan kilo jalan yang kau tempuh, lewati rintang untuk aku anakmu. Ibuku sayang masih terus berjalan, walau tapak kaki, penuh darah, penuh nanah”

Penggalan lirik lagu Iwan Fals berjudul Ibu ini menggambarkan bagaimana sosok ibu yang berkorban penuh, tak peduli berdarah tanpa merintih. Ibu sebagai pencetak generasi berjiwa pemimpin dan penakluk, generasi yang tak gentar terhadap tantangan apa pun dan siapa pun, kecuali hanya kepada Allah SWT.

Kewajiban sebagai ibu tidak melemahkan tugasnya sebagai corong dakwah Allah, dengan kesadaran sosial yang tinggi dan melihat fakta yang terindra akan menjadikan ibu menjadi pencetak generasi yang ideologis karena ia sadar bahwasanya umat hari ini membutuhkan generasi sebagai tombak peradaban.

Ibu tidak hanya membesarkan anak, tetapi juga sebagai ummu warabatul bait yang akan menghiasi perannya dengan cita-cita tinggi, menjadikan anaknya menjadi pemimpin umat sebagaimana di masa Nabi. Peran seorang ibu bukan hanya sekadar melahirkan, melainkan menanamkan aqidah, keberanian, dan orientasi hidup akhirat sejak anak masih sangat belia. Mereka memahami bahwa anak bukan milik pribadi, melainkan amanah Allah yang kelak dijadikan sebagai pejuang agama.

Salah satu hal yang menjadikan Islam berdiri kokoh di tengah umat karena ibu melahirkan singa-singa Allah yang turun ke medan perang membela agama Allah. Dalam sejarah Islam, sosok ibu tidak pernah berdiri di pinggir peradaban.

Salah satunya dalah Al-Khansa binti Amr, penyair terkemuka di masa Jahiliyah dan Islam, yang terkenal sebagai “Ibu Para Syuhada”  karena mendidik keempat putranya menjadi pejuang pemberani yang gugur syahid di medan perang Qadisiyah melawan Persia saat Khalifah Umar bin Khattab RA. Ia mengizinkan anak-anaknya berjihad dengan semangat, ketika mendengar berita kesyahidan mereka, ia justru bersyukur kepada Allah karena kemuliaan yang diberikan, menjadi teladan ketegaran iman dan pendidikan Islam yang luar biasa.

Kisah Al-Khansa menunjukkan bahwa keberhasilan peran ibu bukan diukur dari seberapa lama anaknya hidup dalam kenyamanan dunia, tetapi bagaimana menjadikan anak tunduk akan perintah Allah ta’ala. Dari rahim dan lisannya lahir generasi yang tidak gentar menghadapi risiko, tidak goyah oleh ancaman, dan tidak takut kepada siapa pun selain Allah. Inilah bukti bahwa peradaban besar selalu bermula dari rumah, dan ibu adalah poros utama yang menentukan arah lahirnya generasi berjiwa pemimpin.

Namun sayang, di masa sekarang lingkungan dan sistem yang rusak menjadikan wanita tidak pernah memiliki rasa aman. Alih-alih memikirkan bagaimana menjadi seorang ibu hebat, wanita diberatkan dengan tantangan menjaga dirinya dari hawa nafsu dan kejahatan duniawi.

Perlahan-lahan wanita tergerus nalurinya sebagai seorang ibu. Perempuan seolah ditakuti oleh serangkaian kasus KDRT yang terjadi dan lebih memilih mengejar karir daripada menjadi ibu pembentuk generasi.

Sistem rusak saat ini tidak pernah serius mengurusi umat sehingga umat berlomba-lomba bertahan hidup di tengah sengkarut dunia, termasuk dalam hal akal, akidah, dan ilmu. Rakyat dituntut untuk mencari tahu dan bertanggung jawab atas dirinya sendiri tanpa arah dari negara, termasuk wanita. Tidak dapat dipungkiri bahwasanya di era serba kapitalis ini materi adalah satu-satunya cara untuk bertahan hidup.

Peran ibu dalam membentuk generasi tidak bisa dilepaskan dari visi pendidikan yang seharusnya sudah tersusun sejak awal. Anak-anak harus diarahkan bukan sekadar untuk sukses secara materi, tetapi dipersiapkan sebagai agen perubahan dan tombak peradaban.

Begitu pentingnya peran wanita dalam pembentukan negara dan kebangkitannya. Ibu adalah kurikulum hidup bagi anak-anaknya, lisan penyambung perkataan Allah melalui Al-Qur’an dan disampaikan kepada anaknya.

Peran ini seharusnya didukung penuh oleh peran negara, bukan malah sebaliknya. Pendidikan generasi berkepribadian Islam akan terus dibentturkan dengan sistem hari ini kapitalisme sekuler yang rusak dan merusak masih mengakar di kehidupan. Wallahualam bisshawab.[]

Fajrina Laeli, Aktivis Muslimah.

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU