Meraih Malam Lailatul Qadar

Umur umat Nabi Muhammad saw berkisar 60 sampai 70 tahun, yang melewatinya jumlahnya hanya sedikit. (HR. Ibnu Majah). Tapi alhamdulillah Allah Swt memberikan berkah umur kita dengan adanya ‘lailatul-qadar’ yaitu malam kemuliaan.

Keistimewaan malam qadar itu antara lain difirmankan Allah dalam Al-Qur’an:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ، وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ, لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ، سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ

“Sesungguhnya, Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan, tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu, turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. al-Qadr)

Surah Al Qadr tersebut, menceritakan secara lengkap keistimewaan malam Lailatul Qadar. Di malam al-qadar ini: Allah turunkan Al-Quran dari Lauhul Mahfudh ke Baitul ‘Izzah (langit dunia); beramal ibadah pahalanya dilipatgandakan sampai lebih baik beramal ibadah selama seribu bulan atau setara dengan 83 tahun lebih.

Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malaikat turun membawa keberkahan, rahmat, dan qadha’ atau ketentuan tahunan (rezeki, kematian, dll.) atas perintah Allah.

Untuk meraih lailatul-qadar, Rasulullah saw mengintensifkan beribadah. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan Sayyidah ‘Aisyah ra.:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: – كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا دَخَلَ اَلْعَشْرُ -أَيْ: اَلْعَشْرُ اَلْأَخِيرُ مِنْ رَمَضَانَ- شَدَّ مِئْزَرَهُ, وَأَحْيَا لَيْلَهُ, وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ – مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa ketika memasuki 10 Ramadhan terakhir, beliau mengencangkan sarungnya, menghidupkan malam-malam tersebut dengan ibadah, dan membangunkan istri-istrinya untuk beribadah.” Muttafaqun ‘alaih. (HR. Bukhari no. 2024 dan Muslim no. 1174).

Yang dimaksud dengan Rasulullah mengencangkan sarungnya adalah meninggalkan istri-istri beliau karena ingin konsentrasi untuk ibadah di akhir-akhir Ramadhan. (Lihat Nuzhatul Muttaqin, hal. 68).

Karena ‘malam Lailatul-Qadar ada di sepuluh terakhir bulan Ramadhan, Rasulullah saw bersungguh-sungguh meraihnya dengan menghidup-hidupkan malam sepuluh terakhir Ramadhan dan bahkan membangunkan istri-istri beliau untuk beribadah di malam itu.

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU