Bukittinggi (Ngabarin.net) – Wali Kota Bukittinggi Ramlan Nurmatias menyatakan sejarah lahirnya bahasa persatuan Indonesia berakar dari Kweekschool yang kini menjadi SMAN 2 Bukittinggi.
Ramlan menjelaskan bahwa cikal bakal bahasa nasional berasal dari bahasa Melayu ejaan Van Ophuijsen yang disusun oleh Nawawi Soetan Makmoer dan Moh Taib Sultan Ibrahim di sekolah tersebut.
“Sebelum Bahasa Indonesia dengan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) pada tahun 1972, cikal bakal bahasa persatuan itu adalah Bahasa Melayu dari ejaan Van Ophuijsen. Ia dibantu oleh Nawawi Soetan Makmoer dan Moh Taib Sultan Ibrahim. Itu di Kweekschool Bukittinggi,” katanya dalam seminar kebangsaan di Bukittinggi, Ahad (26/4/2026).
Kontribusi lembaga pendidikan tersebut dinilai menjadi bagian krusial dalam perjalanan bangsa sejak era Sumpah Pemuda hingga Proklamasi Kemerdekaan.
“Ini yang selama ini banyak tidak diketahui, bahwa Bahasa Indonesia itu berawal dari Bahasa Melayu yang dibakukan lewat ejaan yang lahir di Kweekschool. Dari sinilah lahir bahasa pemersatu bangsa,” kata Ramlan.
Ia menegaskan bahwa Kweekschool juga mencetak tokoh-tokoh besar yang berperan signifikan dalam dunia pendidikan serta perkembangan perguruan tinggi di Indonesia.
Pernyataan tersebut diperkuat oleh sejarawan sekaligus jurnalis senior Hasril Chaniago dalam seminar bertajuk “Jejak Intelektual, Pemikiran, dan Keteladanan Tokoh Besar Alumni Sekolah Rajo”.
Hasril memaparkan bahwa pembakuan bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia tidak terlepas dari penyusunan ejaan Van Ophuijsen di Fort de Kock pada akhir abad ke-19.
Ejaan tersebut dirancang oleh Charles Adriaan van Ophuijsen bersama dua guru pribumi yakni Engku Nawawi dan Mohammad Taib Sultan Ibrahim saat mengajar di Kweekschool.
“Kalau tidak ada Kweekschool Fort de Kock, juga tidak ada Bahasa Indonesia seperti yang kita kenal hari ini,” ujar Hasril dalam paparannya.
Ejaan Van Ophuijsen menjadi tonggak awal standardisasi bahasa Melayu menggunakan huruf Latin yang kemudian digunakan secara luas di bidang pendidikan dan administrasi.
Sistem ejaan ini makin dikenal publik setelah terbitnya Kitab Logat Melayu pada 1901 di Batavia dengan ciri khas penulisan seperti penggunaan “oe” untuk bunyi “u”.







