Jakarta (Ngabarin.net) – Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Ukhuwah, K.H. Muhammad Zaitun Rasmin, mengecam keras aksi penembakan brutal di Islamic Center of San Diego, California, Amerika Serikat, yang menewaskan lima orang.
Ia menegaskan bahwa insiden berdarah tersebut merupakan tragedi kemanusiaan sekaligus sinyal bahaya atas meningkatnya Islamofobia global yang semakin mengkhawatirkan.
“Kejadian ini adalah bentuk nyata dari kejahatan kebencian yang harus dihentikan. Menyerang rumah ibadah adalah tindakan pengecut dan tidak manusiawi. Ini bukan hanya serangan terhadap umat Islam, tapi terhadap nilai-nilai perdamaian dan keberagaman,” tegas Ustaz Zaitun dalam pernyataannya kepada media, Rabu (19/05/2026).
Pemimpin lembaga ulama ini juga menyampaikan belasungkawa dan solidaritas mendalam kepada komunitas Muslim di San Diego serta seluruh umat Islam di Amerika Serikat.
“Kami turut berduka sedalam-dalamnya atas wafatnya para syuhada dalam tragedi ini, termasuk petugas keamanan masjid yang menunjukkan keberanian luar biasa. Semoga Allah menerima mereka sebagai syahid fi sabilillah,” ungkapnya.
Ustaz Zaitun, yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Wahdah Islamiyah dan Ketua Ikatan Ulama dan Dai Asia Tenggara, menyoroti pentingnya kerja sama internasional untuk melawan narasi kebencian yang marak di ruang publik maupun digital.
“Akar dari kejahatan ini adalah ujaran kebencian yang dibiarkan tumbuh, baik di dunia nyata maupun media digital. Kita perlu pendekatan strategis yang melibatkan pemerintah, ormas, tokoh lintas agama, dan media untuk membendung arus Islamofobia dan ekstremisme berbasis kebencian,” tambahnya.
Dirinya turut mengapresiasi langkah cepat otoritas Amerika Serikat yang menetapkan kasus ini sebagai hate crime, serta menyerukan penegakan hukum yang transparan.
“Keadilan harus ditegakkan. Dunia tidak boleh lagi permisif terhadap kekerasan berbasis agama. Semua pihak harus bersatu melindungi rumah ibadah dan menjaga ketenangan beragama,” tutup Ustaz Zaitun.
Berdasarkan laporan kronologi, insiden penembakan tersebut terjadi pada Senin (18/5) sekitar pukul 11.45 waktu setempat dan merenggut nyawa tiga pria dewasa, termasuk seorang petugas keamanan.
Pihak kepolisian mengungkapkan bahwa para pelaku yang merupakan remaja berusia 17 dan 19 tahun ditemukan meninggal dunia akibat bunuh diri.
Aparat keamanan juga telah menyita catatan bermuatan anti-Islam di dalam kendaraan pelaku, sementara Federal Bureau of Investigation (FBI) menyatakan penyelidikan motif kejahatan kebencian masih terus berlangsung.
Pihak berwenang sempat mengunci total kompleks tempat ibadah demi keamanan, termasuk Sekolah Al Rashid yang berada di lingkungan masjid, namun seluruh siswa dipastikan selamat.[]







