Jakarta (Ngabarin.net) — Kebiasaan menunda pekerjaan atau prokrastinasi tidak selalu menunjukkan bahwa seseorang malas atau kurang memiliki kemauan. Kondisi tersebut erat kaitannya dengan fungsi eksekutif otak, termasuk kemampuan untuk memulai suatu tugas.
Psikolog Catherine J. Mutti-Driscoll melalui laman Psychology Today pada Ahad (23/8/2026) menjelaskan bahwa prokrastinasi memiliki penyebab yang beragam. Oleh karena itu, strategi untuk mengatasinya perlu disesuaikan dengan alasan utama seseorang menunda pekerjaan.
Menurut Mutti-Driscoll, terdapat tiga alasan utama di balik kebiasaan prokrastinasi. Pertama, seseorang kurang tertarik atau tidak memiliki motivasi terhadap tugas yang harus dikerjakan.
Kedua, timbulnya kecemasan terhadap tugas dapat membuat seseorang memilih untuk menghindarinya. Kondisi tersebut dapat terjadi secara sadar maupun tidak disadari.
Ketiga, tugas dapat memiliki beban emosional akibat pengalaman masa lalu, seperti pernah gagal atau mendapat teguran saat menyelesaikannya. Pengalaman buruk tersebut membuat tugas terasa semakin berat untuk dimulai.
Pakar ADHD dan fungsi eksekutif, Brendan Mahan, menyebut kondisi tersebut sebagai wall of awful. Istilah ini menggambarkan akumulasi pengalaman buruk, kritik, dan perasaan negatif yang memicu rasa takut dalam menghadapi tugas.
Mutti-Driscoll menjelaskan bahwa wall of awful membuat seseorang merasa tertekan bahkan sebelum mulai melangkah. Hal ini menjadi penghambat utama bagi fungsi eksekutif seseorang.
Jika prokrastinasi terjadi karena kurangnya motivasi, tugas dapat dibuat lebih menarik dengan menyisipkan unsur permainan atau mengaitkannya dengan minat pribadi. Pendekatan ini dikenal sebagai kerangka PINCH (Play, Interest, Novelty, Challenge, Hurry) yang dikembangkan oleh pelatih neurodiversitas, Elaine Taylor-Klaus.
Sementara itu, jika kecemasan menjadi pemicunya, tugas sebaiknya dipecah menjadi bagian-bagian yang lebih kecil. Mengerjakannya dalam suasana baru juga dapat membantu mengurangi tekanan emosional.
Namun, untuk tugas yang memiliki beban emosional sangat kuat, strategi mandiri mungkin belum cukup. Mutti-Driscoll menyarankan agar seseorang mulai memahami pengalaman masa lalu yang memengaruhi cara pandangnya terhadap diri sendiri.
Apabila kesulitan mengerjakan tugas telah menimbulkan tekanan emosional mendalam dan mengganggu harga diri, bantuan profesional dapat dipertimbangkan. Berkonsultasi dengan terapis dapat membantu mengurai hambatan psikologis tersebut secara tepat.[]
Sumber: ANTARA







