Jakarta (Ngabarin.net) – Pola makan kaya antioksidan dan asam lemak sehat terbukti memegang peranan krusial dalam menjaga fungsi prostat. Asupan ini mampu meminimalkan risiko pembesaran prostat jinak (benign prostatic hyperplasia/BPH) hingga kanker prostat.
Berdasarkan laporan di laman kesehatan EatingWell pada Selasa (22/9), ahli urologi Jason B. Carter, M.D. memaparkan bahwa kelenjar prostat sangat rentan terhadap peradangan kronis seiring bertambahnya usia pria. Oleh karena itu, konsumsi makanan utuh (whole foods) yang bersifat antiinflamasi menjadi kunci pencegahan alami.
Berikut sejumlah kelompok makanan terbaik untuk mendukung kesehatan prostat:
Tomat yang dimasak
Tomat merupakan sumber utama likopen, senyawa karotenoid dengan daya antioksidan kuat yang terkonsentrasi tinggi di jaringan prostat. Kadar likopen lebih mudah diserap oleh tubuh ketika tomat diolah melalui proses pemanasan, seperti dibuat sup atau saus pasta.
Sayuran krusifer (cruciferous)
Kelompok sayuran seperti brokoli, kembang kol, kubis, dan kale mengandung fitokimia unik bernama sulforafan (sulforaphane). Senyawa ini terbukti membantu proses detoksifikasi racun di tingkat seluler serta melindungi jaringan dari mutasi sel abnormal.
Ikan berlemak
Ikan perairan dingin seperti salmon, sarden, kembung, dan makarel kaya akan asam lemak omega-3 rantai panjang. Asupan lemak baik ini membantu meredakan inflamasi sistemik sekaligus menjadi alternatif pengganti daging merah olahan.
Biji labu dan aneka kacang
Biji labu (pumpkin seeds) dan kacang-kacangan memasok mineral esensial, terutama seng (zinc) dan selenium. Kelenjar prostat yang sehat secara alami membutuhkan konsentrasi seng tinggi untuk menjaga kestabilan hormon reproduksi pria.
Buah beri dan teh hijau
Stroberi, blueberry, dan rasberi kaya akan vitamin C serta antosianin, sedangkan teh hijau memasok senyawa polifenol katekin. Keduanya bekerja efektif menangkal serangan radikal bebas yang dapat merusak DNA sel prostat.
Kendati asupan gizi seimbang memberi perlindungan signifikan, para ahli menegaskan bahwa diet bukanlah pengganti tindakan medis. Kaum pria berusia 50 tahun ke atas diimbau tetap melakukan pemeriksaan berkala ke dokter spesialis urologi, termasuk melalui tes prostate-specific antigen (PSA).[]
Sumber: Antara







