Jakarta (Ngabarin.net) — Tuntutan pekerjaan dan dinamika kehidupan sehari-hari kerap membuat seseorang abai terhadap kondisi fisik dan mentalnya sendiri. Padahal, tubuh dan pikiran membutuhkan waktu istirahat yang cukup agar fungsi organ dan keseimbangan emosional tetap terjaga.
Praktik self-care atau perawatan diri dapat dipahami sebagai kebiasaan sadar untuk menjaga kesehatan dan kesejahteraan pribadi. Aktivitas ini tidak selalu membutuhkan biaya mahal seperti berlibur atau pergi ke salon, melainkan mencakup kebiasaan dasar seperti tidur cukup, makan bergizi, rutin bergerak, hingga meluangkan waktu untuk jeda.
Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) mendefinisikan self-care sebagai kemampuan individu, keluarga, dan komunitas untuk memelihara kesehatan, mencegah penyakit, serta mengelola kondisi sakit secara mandiri, baik dengan maupun tanpa pendampingan tenaga kesehatan.
Pentingnya Praktik Self-Care
1. Membantu Lebih Peduli terhadap Kondisi Tubuh Rutinitas yang padat sering membuat seseorang baru menyadari kondisi fisiknya saat sudah jatuh sakit. Perawatan diri bertindak sebagai langkah preventif melalui kebiasaan harian yang menutrisi tubuh secara konsisten.
WHO memasukkan pola hidup sehat dan kebersihan diri sehari-hari sebagai pilar utama perawatan diri. Kebiasaan ini membantu mencegah timbulnya berbagai gangguan kesehatan kronis di kemudian hari.
2. Lebih Aktif Mengelola Kesehatan Mandiri Praktik self-care mendorong seseorang untuk memahami kondisi fisiknya secara berkala, seperti memantau tekanan darah atau kadar gula darah sesuai petunjuk medis.
Pendekatan ini meningkatkan kemandirian dalam memelihara kebugaran pribadi. Meski demikian, WHO mengingatkan bahwa tindakan mandiri ini harus berlandaskan informasi medis yang tepat dan tidak menggantikan peran dokter.
3. Memberi Ruang bagi Kesehatan Mental Menjaga diri mencakup keseimbangan emosional, seperti meluangkan waktu untuk hobi, beristirahat, serta merawat hubungan sosial yang sehat.
Namun, perawatan diri mandiri memiliki keterbatasan dan bukan alat pemungkas untuk mengatasi gangguan psikologis berat. WHO menegaskan bahwa self-care berfungsi sebagai pelengkap layanan kesehatan jiwa profesional, bukan penggantinya.
4. Tidak Harus Menguras Biaya Masyarakat kerap mengidentikkan perawatan diri dengan gaya hidup mewah. Nyatanya, bentuk pemulihan diri paling efektif dapat diakses secara gratis melalui tidur teratur, berjalan kaki, hingga mengurangi paparan layar gawai (screen time).
5. Membangun Kebiasaan Sehat yang Berkelanjutan Kunci keberhasilan self-care terletak pada konsistensi kecil yang dilakukan secara bertahap, bukan perubahan drastis yang sulit dipertahankan.
Melakukan perawatan diri tidak berarti seseorang bertindak egois atau mengabaikan tanggung jawab sosialnya. Justru, kondisi fisik dan mental yang prima menjadi fondasi utama agar seseorang dapat berkontribusi optimal bagi keluarga dan lingkungannya. []
Sumber: Antaranews.com







