Di Jepang Ada Perusahaan Konstruksi Berusia 14 Abad, Sezaman dengan Masa Nabi Muhammad Masih Berdagang

Fleksibilitas pemimpin Kongo Gumi dalam mengelola perusahaan juga diuji selama ribuan tahun, termasuk saat ketika pemimpin ke-37, Haruichi Kongō, melakukan ritual bunuh diri akibat ketidakmampuannya untuk menafkahi keluarganya dan keluarga para perajin.

Tradisi pemimpin perusahaan yang biasanya laki-laki juga pernah beralih ke perempuan. Karena tidak adanya pemimpin laki-laki yang cocok, jandanya, Yoshie, maju dan menjadi wanita pertama serta satu-satunya yang memimpin Kongō Gumi. Dia menjadi pemimpin dari generasi ke-38 pada 1934.

Ia tidak hanya mengubah tradisi kepemimpinan dari laki-laki ke perempuan, tetapi juga memperluas cakupan perusahaan dengan memohon kepada pemerintah untuk mengizinkan perusahaan bertahan hidup melalui pengambilalihan produksi peti mati kayu.

Dia juga mereformasi manajemen perusahaan dengan memisahkan posisi manajerial dari posisi pertukangan.

Kongō Gumi selamat dari perang, dan pada 1955, di bawah kepemimpinan generasi ke-39, Kōngō Ritaka, perusahaan ini melakukan penawaran saham perdana (IPO) dan menjadi perusahaan terbuka yang terdaftar di bursa.

Namun, di era Bubble Jepang, easy money dan keuntungan cepat, terutama di sektor properti, mendorong perusahaan untuk berinvestasi besar-besaran di properti, dengan membiayainya menggunakan utang. Ketika gelembung ekonomi meledak pada 1990-an, pendapatan dari kuil turun, dan nilai investasi properti jatuh dengan tajam, membuatnya mustahil untuk menjual properti tersebut tanpa mengalami kerugian besar.

Setelah jatuh bangun, Kongo Gumi harus mengalami likuidasi pada 2006. Perusahaan diakuisisi oleh Takamatsu Construction Group akibat kesulitan keuangan. Kongo Gumi kini menjadi anak perusahaan yang sepenuhnya dimiliki oleh Takamatsu.

Meski dikenal tangguh lintas zaman, perusahaan-perusahaan tua Jepang kini menghadapi tantangan baru, terutama perubahan demografi, beban ekonomi, dan regenerasi bisnis keluarga. Penurunan angka kelahiran menyulitkan suksesi usaha, sementara keterbatasan tenaga kerja dan kenaikan biaya operasional turut menekan keberlanjutan bisnis-bisnis tradisional ini.

Tekanan ekonomi juga ikut membayangi, mulai dari potensi kenaikan beban pajak hingga kebutuhan adaptasi dengan sistem bisnis modern. Kondisi ini membuat perusahaan bersejarah seperti Kongo Gumi harus terus menyeimbangkan antara menjaga tradisi dan berinovasi agar tetap relevan.

Tanpa regenerasi, dukungan kebijakan, dan kemampuan adaptasi, bisnis-bisnis legendaris Jepang berisiko menghadapi tantangan keberlanjutan yang semakin besar ke depan.[]

sumber: CNBC Indonesia

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU