Dibuka Pintu Gerbang DPR dan Istana

Dan itu disinyalir dilakukan oleh percis gerombolan kriminal. Tetapi, bukan tidak mungkin “dibayar” untuk menjadikannya bermotif politis.

Memiliki sasaran kepada pemerintah legitimasi agar publik dibuat under trustment. Dan itu siapa lagi kalau bukan berujung pertanggungjawabannya kepada yang masih memiliki legacy atas kepentingannya terhadap pemerintahan Prabowo. Yang sudah mulai merasa tersingkir, tersisih dan terpinggirkan.

Oleh Publik dalam ranah platform media sosial menyebutnya: untuk mengubah nama “Geng Solo” menjadi “Geng ODGJ ”. Alias, “Geng Orang Dekat Gibran Jokowi”. Yang rasa-rasanya tak usah dipungkiri lagi.

Padahal, pemilik legacy kekuasaan lama keniscayaannya sssungguhnya sudah membebani jalannya pemerintahan ini secara ekonomi, politik dan sosial. Disadari oleh publik kesalahan itu akibat dibuatnya sendiri selama satu dekade. Tidak serta merta disebabkan oleh pemerintahan Prabowo sekarang.

Tetapi, atas keserakahan dan kerakusannya —tanpa tedeng aling-aling— “Geng ODGJ ” masih dan akan melakukan perbuatan makar. Kudeta “senyap” secara merangkak untuk memperburuk kondite kepercayaan publik terhadap Prabowo.

Maka, terjadilah aksi amuk massa demonstran menjarah rumah anggota DPR yang speak up keseleo lidah; yang tampil flamboyan dan joget-joget di ruang sidang; membakar gedung DPRD di pelbagai daerah; serta sempat pula menghanguskan beberapa kantor Polres dan markas Brimob di Jakarta.

Untungnya, Prabowo tidak memberlakukan sampai ke upaya pemberlakuan darurat militer. Betapa! Jika upaya kebijakan darurat militer itu diterapkan semakin akan mendapatkan kecaman tidak saja dari publik dalam negeri sendiri. Melainkan, dari publik di negara-negara mondial.

Termasuk, PBB, lembaga-lembaga internasional di bidang penegakkan demokrasi, ekonomi ditandai KKN, sosial dengan disparitas ketidakadilan, kemiskinan dan kebodohan, serta pelanggaran HAM itu.

Maka, solusi atas kejadian aksi amuk massa demonstran seperti ini, adalah konsistensi pernyataan Prabowo dan Puan Maharani dengan menyatakan secara aklamasi diumumkan ke publik dan Prabowo bersama Puan Maharani yang langsung speak up: pagar pintu Gerbang DPR dan Istana!

Dengan demikian aksi amuk masaa akan berubah menjadi ajang demo penyampaian aspirasi nyata secara dalam dialektika dan diskursus dinamis. Tak ada lagi parlemen jalanan, tetapi yang ada parlemen mimbar reasoning bersama secara adu argumen, fakta, dan ilmiah akademik .

Ini sekaligus akan memfilter dari banyaknya elemen aksi demo yang mana benar-benar mengaspirasikan kepada kepentingan rakyatnya. Atau mana yang hanya akan mengacaukan negaranya!

Atas putusan dibukanya pintu gerbang DPR dan Istana dengan sendirinya bagi para pendemo aksi amuk massa hitam alias penumpang gelap itu tak akan pernah datang alias menghilang. Lari terbirit-birit menyembunyikan diri dan berlindung di induk semangnya.

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU