Seruan untuk Umat
Ingat, ini untuk para ulama, wahai yang merasa dipanggil sebagai ulama, bangkitlah! Jangan diam, karena kalian adalah pewaris para nabi.
Kepada para pemimpin, ingat, kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinan kalian.
Termasuk para suami dan ayah, yang akan ditanya oleh Allah tentang amanahnya, ketika agama dinistakan dan masjid suci ditindas sementara mereka diam. Wahai para pemuda, wahai para lelaki: kalian adalah penentu perubahan.
Jangan menjadi generasi yang hanya diam. Ambil peran dalam kebaikan, berkontribusi dengan cara yang nyata, dan jangan hanya berhenti pada kata-kata.
Kepada para wanita, wahai penerus generasi mulia, didiklah anak-anak menjadi pribadi yang berani, beriman, dan berakhlak kuat.
Kepada para lelaki, jadilah ksatria karena ketaatan kepada Allah, bukan karena emosi atau hawa nafsu.
Kepada para jurnalis, tulisan adalah kekuatan. Gunakan untuk menyuarakan kebenaran.
Kepada para pengguna media sosial dan influencer, narasi yang kalian bangun memiliki dampak besar. Gunakan untuk menyebarkan kepedulian dan kesadaran.
Kepada umat Islam Indonesia, bersatulah dalam kebaikan dan kepedulian. Perkuat ukhuwah, mulai dari yang dekat, untuk membangun kesadaran yang lebih luas.
Kepada seluruh dunia Islam, jadilah satu tubuh, saling menguatkan dan saling peduli.
Mulai dari sekarang, gunakan setiap sarana yang ada, termasuk teknologi, untuk menyebarkan kebaikan, kepedulian, dan doa. Karena Allah telah menjanjikan pertolongan bagi mereka yang menolong agama-Nya.
Persoalan Al-Aqsa bukan sekadar konflik politik. Ini adalah krisis iman dan krisis kepedulian.
Jika kita tidak peduli terhadap urusan kaum muslimin, maka kita kehilangan makna sebagai satu umat. Maka pertanyaannya kembali, di mana kita, wahai umat?
Jawabannya tidak cukup dengan kata-kata. Ia harus hadir dalam kesadaran, kepedulian, dan perubahan nyata dalam diri kita masing-masing.[]







