Eli Cohen, Agen Israel yang Nyaris Jadi Menteri di Suriah

Sebenarnya, pohon-pohon itu adalah penanda target bagi Angkatan Udara Israel. Saat Perang Enam Hari meletus pada 1967 (dua tahun setelah kematiannya), Israel menghancurkan bunker-bunker tersebut dengan presisi tinggi hanya dengan menargetkan pohon-pohon eukaliptus yang sudah tumbuh besar.

Jadi Calon Menteri

Kedekatan Cohen dengan Amin al-Hafiz, yang kemudian melakukan kudeta dan menjadi Presiden, membuat posisi Cohen semakin tak tersentuh. Ia menjadi penasihat tepercaya bagi pemerintah Suriah. Begitu besarnya kepercayaan mereka, sehingga muncul wacana serius untuk mengangkat “Kamel Amin Thaabet” sebagai Wakil Menteri Pertahanan.

Jika hal itu terjadi, Israel akan memiliki agen di posisi kedua tertinggi dalam struktur militer musuh bebuyutannya. Namun, justru di puncak kesuksesan inilah, bayang-bayang maut mulai mendekat.

Detik-Detik Penangkapan

Kejatuhan Cohen bukan disebabkan oleh kecerobohannya dalam bergaul, melainkan karena kemajuan teknologi dan sedikit rasa puas diri. Presiden al-Hafez dikabarkan murka karena kebocoran intelijen yang menyebabkan Suriah berulang kali kalah dalam konflik melawan Israel.

Kontra-intelijen Suriah mulai curiga terhadap adanya transmisi radio ilegal yang keluar dari wilayah Damaskus.

Dengan bantuan tenaga ahli dari Uni Soviet dan peralatan pelacak frekuensi terbaru, intelijen Suriah melakukan pemadaman listrik total di area diplomatik untuk mengisolasi sinyal radio. Pada Januari 1965, saat Cohen sedang mengirimkan laporan rutin ke Israel, tim keamanan Suriah mendobrak pintu apartemennya.

Ia tertangkap tangan sedang memegang pemancar radio. Identitas aslinya terbongkar. Dunia intelijen terguncang; seorang Yahudi-Israel telah hidup di jantung kekuasaan Suriah selama bertahun-tahun tanpa terdeteksi.

Akhir yang Tragis

Pengadilan militer Suriah menjatuhkan hukuman mati terhadap Cohen. Upaya diplomatik internasional, termasuk permohonan dari Paus Paulus VI serta pemerintah Perancis dan Belgia agar Suriah memberikan pengampunan, ditolak mentah-mentah.

Pada 18 Mei 1965, Eli Cohen dibawa ke Al-Marjeh Square di pusat kota Damaskus. Di depan ribuan pasang mata dan kamera televisi yang menyiarkan secara langsung, ia digantung. Tubuhnya dibungkus dengan kain putih bertuliskan kejahatannya terhadap negara.

Meski telah dieksekusi, dampak operasi Cohen tetap terasa. Informasi yang ia bocorkan membantu Israel memenangkan Perang Enam Hari pada 1967.

“Ia mungkin sosok paling berpengaruh dalam sejarah intelijen Timur Tengah,” tulis Cohn, menggambarkan betapa besar efek operasi Cohen terhadap dinamika regional.

Kisah Eli Cohen hingga kini menjadi salah satu kegagalan kontra-intelijen terbesar dalam sejarah Arab, sekaligus kemenangan intelijen paling pahit bagi Israel. Hingga hari ini, Suriah menolak mengembalikan jenazahnya, membuat “Sang Kameleoun” tetap berada di tanah yang pernah nyaris ia pimpin.[]

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU