Gen Z Terhimpit: Ketika ‘Self-Reward’ Jadi Pelarian dari Krisis Hidup

Jika kebahagiaan hanya diukur dari materi, sebanyak apa pun yang dimiliki tidak akan pernah benar-benar cukup. Selalu ada standar baru, tren baru, dan keinginan baru.

Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (Q.S. Az-Zariyat: 56).

Ayat ini memberikan jawaban paling mendasar tentang tujuan kehidupan manusia. Manusia tidak diciptakan sekadar untuk mengejar pekerjaan, uang, popularitas, hiburan, atau kesenangan.

Ketika tujuan hidup jelas, persoalan ekonomi tetap dihadapi, tetapi tidak membuat seseorang kehilangan arah. Kebahagiaan tidak lagi bergantung sepenuhnya pada apa yang dimiliki, melainkan pada kedekatan dengan Allah dan usaha menjalankan kehidupan sesuai syariat-Nya.

Tentu saja Gen Z membutuhkan arah. Mereka membutuhkan kehidupan yang membuat kerja keras memiliki makna, pendidikan memiliki tujuan, dan masa depan memiliki harapan.

Islam telah memberikan jawabannya, yakni manusia hidup untuk beribadah kepada Allah dan menjalankan kehidupan berdasarkan aturan-Nya. Maka, jangan sampai self-reward menjadi obat sementara bagi luka yang sebenarnya bersumber dari krisis sistem dan krisis makna hidup.

Generasi muda bukan sekadar konsumen yang harus terus membeli agar merasa bahagia. Mereka adalah generasi yang memiliki potensi besar untuk menjadi pembangun peradaban.

Oleh karena itu, yang dibutuhkan Gen Z bukan sekadar lebih banyak healing. Mereka membutuhkan kehidupan yang menghadirkan kesejahteraan, ketenangan, dan tujuan yang benar, yakni meraih ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala. []

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU