Rombongan juga diberitahu mengenai sejarah perdagangan internasional dan titik ditemukannya Prasasti Padrao.
Destinasi selanjutnya yang dikunjungi yakni Museum Sejarah Jakarta atau yang dikenal sebagai Museum Fatahillah. Di dalam gedung yang pada tahun 1626 difungsikan sebagai Balai Kota pada zaman pemerintahan Gubernur Jan Pieterszoon Coen, rombongan banyak merenungi masa lalu kolonial kota.
Rombongan didampingi oleh tour guide museum, menambah wawasan tentang berbagai pengaruh yang telah membentuk kota termasuk budaya asli, kerajaan Hindu-Buddha, kesultanan Islam, masa kolonial, masa ketika dinamai ulang menjadi Batavia hingga saat kemerdekaan.
Setelahnya, rombongan menuju Museum Seni Rupa dan Keramik yang diresmikan pada 21 Januari 1870. Dikenal sebagai Kantor Dewan Kehakiman pada Benteng Batavia (Ordinaris Raad van Justitie Binnen Het Kasteel Batavia) pada masa Pemerintah Hindia Belanda, Pj Gubernur menikmati kemegahan bangunan sambil mendengar ragam karya menarik yang ada di dalamnya.
Kegiatan tur tersebut berakhir di Beos (Bataviasche Ooster Spoorweg Maatschappi) atau Stasiun Jakarta Kota.
Di stasiun yang telah ditetapkan sebagai Bangunan Stasiun Cagar Budaya Berdasarkan SK Gubernur No. 475 Th. 1993, 29 Maret 1993; dan SK Menbudpar No: PM.13/PW.007/MKP/05, 25 April 2005 itu, rombongan diajak melihat sejarah transportasi dan Museum MRT yang berisikan koleksi temuan arkeologis pada proyek pembangunan jalur MRT, hingga akhirnya kembali ke Balai Kota dengan menggunakan moda transportasi bus Transjakarta.[]







