Doktor Musthafa Murad, dosen Fakultas Dakwah Islamiyah Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, dalam bukunya yang diterjemahkan dengan judul “1001 Kesalahan dalam Ibadah dan Muamalah” menulis, perbuatan dusta memiliki beberapa tingkatan, sebagian di antaranya lebih besar dosanya dari pada sebagian yang lain.
“Yang paling besar dan paling buruk dosanya adalah mendustakan kebenaran Allah SWT dan rasul-Nya dengan menghalalkan apa yang diharamkan-Nya, mengharamkan apa yang dihalalkan-Nya, dan juga memfitnah Allah SWT dan rasul-Nya”.
Allah SWT berfirman, “Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta, “Ini halal dan ini haram,” untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung.” (QS. An-Nahl [16]: 116)
Berdusta terhadap Rasulullah Saw
Yang dimaksud berdusta terhadap Rasulullah Saw, menurut Musthafa Murad, adalah pengingkaran yang mengeluarkan pelakunya dari agama Islam.
“Tidak diragukan bahwa dusta yang disengaja terhadap Allah dan rasul-Nya untuk menghalalkan sesuatu yang diharamkan dan mengharamkan sesuatu yang dihalalkan adalah murni kekafiran,” tulisnya.
Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya berdusta terhadapku tidak sama dengan berdusta terhadap orang lain. Siapa yang berdusta terhadapku dengan sengaja, maka silahkan ia mengambil tempatnya di neraka.” (HR Muslim)
Dalam hadits lainnya, Rasulullah Saw bersabda, “Siapa yang berdusta terhadapku, maka dibangunkan baginya rumah di neraka Jahanam.” (HR Bukhari)
“Siapa yang menceritakan dariku apa yang tidak aku katakan, maka silahkan ia mengambil tempatnya di neraka.” (HR. Bukhari, Muslim)
“Siapa meriwayatkan hadits dariku sementara ia sendiri memandang bahwa itu dusta, maka ia termasuk salah satu dari para pendusta.” (HR Ahmad). []







