Meski menjanjikan, jalan menuju operasional penuh masih panjang. Uji coba di laut akan menghadapkan sistem ini pada tantangan nyata, seperti angin kencang, kelembapan tinggi, pantulan cahaya, hingga gelombang laut yang membuat dek kapal terus bergoyang.
Laser harus mampu mempertahankan fokus pada target di tengah kondisi tersebut, sekaligus mengatasi hamburan cahaya atmosfer yang bisa mengurangi efektivitas tembakan. Selain itu, teknologi directed-energy weapon masih menghadapi kendala mendasar.
Sistem ini membutuhkan daya listrik besar, pendinginan intensif, serta waktu pengisian ulang yang tidak singkat. Bahkan dalam kondisi ideal, efisiensi laser fiber umumnya hanya sekitar 25–35 persen, tantangan serius bagi platform laut yang memiliki keterbatasan daya.
Pejabat ATLA menegaskan bahwa penempatan operasional masih membutuhkan waktu bertahun-tahun. Namun, uji coba ini penting untuk mengevaluasi kemungkinan pengembangan laser berdaya lebih besar, bahkan untuk misi ambisius seperti mencegat rudal di masa depan.
Dengan proyek ini, Jepang resmi bergabung dengan negara-negara seperti Amerika Serikat, Inggris, Prancis, dan Jerman yang telah lebih dulu mengembangkan senjata energi terarah.
China juga diduga berada di jalur serupa, setelah foto sebuah sistem laser di kapal amfibi China beredar di media sosial pada 2024.
Laser di Kapal Aegis, Target Setelah 2032
Saat ini, satu-satunya rencana penempatan senjata laser laut yang diumumkan secara publik adalah pada kapal perang Jepang yang dilengkapi sistem pertahanan Aegis, sebagaimana dilaporkan Naval News.
Kapal-kapal tersebut diperkirakan baru akan beroperasi setelah 2032. Sebagai perbandingan, Inggris telah lebih dulu menguji sistem laser “DragonFire”, yang pada 2023–2024 berhasil menjatuhkan drone dalam uji lapangan di Kepulauan Hebrides, Skotlandia.
Sementara itu, pada akhir 2024, ilmuwan China mengklaim telah mengembangkan senjata gelombang mikro berdaya tinggi yang mampu memusatkan energi elektromagnetik ke satu target.
Perkembangan ini menandai era baru persenjataan modern, di mana kecepatan cahaya, bukan lagi proyektil fisik, menjadi penentu di medan perang masa depan.[]
sumber: kompas.com







