Mahfuz Sidik: Trump Hadapi Empat Tekanan Berat untuk Akhiri Perang Teluk

Dalam satu dekade terakhir, Qatar dan UEA misalnya sangat berambisi mengembangkan negaranya sebagai pusat pendukung industri siber dunia.

Politisi yanag pernah menjabat Ketua Komisi I DPR RI ini mengatakan, keempat macam tekanan itu membuat Presiden Trump dalam kebingungan besar bagaimana menyelesaikan perang dengan tetap mencapai target intinya.

Yaitu menetralisir seluruh kemampuan militer Iran, dan menciptakan situasi kisruh politik yang mengarah pada pergantian rezim di Iran.

Mahfuz menyebutkan bahwa masyarakat dunia menyaksikan bagaimana Presiden Trump pada pernyataan pers di Gedung Putih pada Selasa (17/3/2026), memuji Pemimpin Iran sebagai orang yang cerdas dan ber IQ tinggi, yang memahami permainan catur perang.

Lalu Trump mengajak Iran untuk melakukan negosiasi untuk segera mengakhiri perang. “Ini menandakan pikiran dan ucapan Presiden Trump ini bolak-balik dan gonta-ganti tidak jelas. Secara psikopolitik, presiden Trump benar-benar ada dalam tekanan berat,” kata Mahfuz yang juga Sekjen Partai Gelora ini.

Dalam pandangannya, Mahfuz meyakini Trump akan terus mencari jalan mengakhiri segera perang di Teluk, apalagi ancaman dampak ekonomi dan kemanusiaan semakin mengancam stabilitas dunia.

Amnesti Internasional misalnya merilis perkiraan 45 juta orang akan menderita kelaparan jika perang ini terus berlangsung.

“Namun sekeras apapun upaya Trump mencari jalan negosiasi untuk mengakhiri perang, tantangan terbesar bukan dari Iran, tetapi justru dari Israel.” Imbuh Mahfuz.

Pasalnya, bagi Israel ini adalah perang eksistensi dan momen yang disiapkan sejak tahun 1996 oleh Benjamin Netanyahu saat mulai Netanyahu menjabat Perdana Menteri Israel.

Dimana Netanyahu akan menjadikan Israel kekuatan dominan di kawasan, dan mewujudkan ambisi Israel Raya, perluasan wilayah kekuasaan sampai sebagian wilayah Lebanon, Suriah, Yordania, Mesir dan Saudi Arabia.

“Belajar dari peristiwa perundingan antara pihak Iran dan AS yang dimediasi oleh negara Oman, begitu mengarah kepada kesimpulan yang positif dan progresif, Israel secara tiba-tiba dan sepihak membalikkan papan catur dengan menyerang Iran yang menyebabkan gugurnya pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei,” ujarnya.

Mahfuz mengingatkan, bahwa peristiwa ini mungkin saja akan berulang kembali, dengan tindakan tiba-tiba dan sepihak dari Israel yang membuyarkan ikhtiar negosiasi untuk menghentikan perang.[]

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU