Diriwayatkan pula bahwa sahabat Umar pernah berkata: “Barangsiapa diberi jabatan untuk mengurusi urusan manusia, lalu ia tidak berlaku adil di dalamnya, maka jabatan itu akan menjadi penyesalan dan kerugian baginya di hari kiamat.”
Dalam Islam, pejabat atau penguasa adalah pelayan umat (ra’in). Satu tanggung jawab besar yang akan dihisab di sisi Allah ﷻ. Satu amanah yang semestinya membuat pemangkunya bersimpuh menangis ketakutan atas bencana yang menimpanya. Bukan berlenggak-lenggok ria dan berjalan dengan angkuhnya, di tengah kubangan penderitaan rakyat yang tidak terpenuhi hak-haknya.
Sistem Islam dengan jelas dan tegas menempatkan khalifah dan aparat terikat pada syariat. Adanya pemimpin dan pejabat adalah untuk menjalankan dan memastikan berjalannya hukum Allah ﷻ semata, bukan lainnya. Sehingga tidak ada celah hukum dibuat manusia sesuai kepentingannya, maupun impunitas hukum bagi pelaku kejahatan dan pelanggaran, sekalipun ianya adalah pejabat dan penguasa.
Setiap dari mereka merasa takut atas hisab Allah ﷻ dan akan menjalankan amanah dengan sebenar-benarnya. Sistem Islam memastikan bahwa mereka yang berkuasa akan mendapatkan kedudukan yang sama seperti rakyat di hadapan pengadilan. Yang bersalah tetap dinyatakan salah dan kebenaran akan ditegakkan. Sebab patokannya pasti, hukum Allah ﷻ yang tetap, bukan hukum manusia yang berubah-ubah.
Rakyat didengar aspirasinya, sebagai tuan yang harus dipenuhi kemaslahatan dan keamanannya sesuai amanah syariah. Berjalan beriringan dengan pelaksanaan berbagai sistem Islam dalam berbagai lini kehidupan.
Ketahuilah wahai kaum muslimin, ini bukan soalan oknum atau rezim semata. Kita sudah melalui masa yang panjang, berganti pejabat, berganti rezim, tapi dengan kejahatan dan kedzaliman yang sama. Sudah saatnya kita sadar bahwa letak masalah bukan pada pejabat dan institusinya, tapi pada sistem yang mendasarinya. Sistem yang menjadi pondasi dibangunnya segala tata aturan dan kelola negara. Sistem yang mengendalikan para pejabat dan apaturnya. Sistem yang melahirkan watak-watak korup dan bengis pada mereka. Sistem yang sekali lagi menjadikan amanah sebagai privilege dan bukannya bencana.
Paradigma inilah yang harus diubah. Mengembalikan semuanya seperti sedia kala. Mengganti paradigma kepemimpinan serta sistem yang berlaku atasnya. Rasulullah ﷺ telah membangun dan mencontohkan peradaban itu, sebagai pemimpin terbaik dan sistem terbaik yang kemudian diwariskannya pada para sahabat yang mulia.
Khalifah Umar pernah berkata: “Seandainya ada seekor keledai (atau kambing) yang tergelincir di Irak, niscaya aku khawatir Allah akan menuntutku: Mengapa engkau tidak meratakan jalan untuknya, wahai Umar?”
Bukankah sosok yang demikian yang kita damba? Sungguh tidaklah pemimpin yang demikian lahir dari sistem yang sedari awal telah menyalahi agama. Maka inilah amanah kaum muslimin abad ini, amanah kita bersama. Melanjutkan kembali peradaban Islam dengan para pemimpin teladannya. Meneruskan warisan Nabi untuk digigit, bahkan dengan gigi geraham.
عليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين من بعدي، عضوا عليها بالنواجذ
“Berpegang teguhlah kalian dengan sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk sepeninggalku. Gigitlah ia dengan gigi geraham,” (HR. Abu Dawud, no. 4607; Tirmidzi, no. 2676 – hadits hasan shahih).
Muntik A. Hidayah, Koordinator BMIC Malang dan Pegiat Literasi







