Polemik yang muncul bermula dari pernyataan Jusuf Kalla dalam forum akademik di Masjid Kampus UGM pada 5 Maret 2026 bertajuk “Strategi Diplomasi Indonesia dalam Memitigasi Potensi Eskalasi Perang Regional Multipolar” dan menyajikan studi kasus mengenai konflik yang pernah terjadi di Maluku dan Poso.
Dalam pertemuan tersebut, Jusuf Kalla menjelaskan bahwa pernyataannya dimaksudkan sebagai refleksi sejarah agar masyarakat dapat memahami dinamika konflik masa lalu serta mengambil pelajaran dari proses penyelesaiannya, termasuk melalui kesepakatan damai seperti Perjanjian Malino.
Dalam penjelasannya, Jusuf Kalla juga menekankan pentingnya melihat sejarah secara jujur agar pengalaman masa lalu dapat menjadi pelajaran bagi kehidupan bangsa di masa depan.
Pertemuan tersebut diakhiri dengan pernyataan bersama dari sejumlah organisasi kepemudaan yang hadir untuk menjaga situasi sosial tetap kondusif serta mendorong penyampaian informasi yang akurat dalam menyikapi isu yang berkembang.[]







