Plan B dan Jalan Iran Menuju Bom Atom

Konsekuensi yang tak terhindarkan dari Doktrin Dahiya adalah perluasan serangan IRGC terhadap instalasi minyak dan gas di UAE, Qatar, Kuwait, dan Arab Saudi (Rogers, 2026). Dampaknya tidak hanya regional, tetapi global. Guncangan energi yang dihasilkan berpotensi menyamai krisis minyak 1973-1974, menghancurkan ekonomi global dan mengoyak aliansi yang selama ini menjadi pilar dominasi AS di kawasan.

Ironisnya, negara-negara Teluk yang menjadi “mitra” AS justru akan menjadi korban pertama dari petualangan militer ini. Saudi dan UEA yang telah menandatangani kesepakatan normalisasi dengan Israel kini harus membayar harga mahal atas kalkulasi geopolitik mereka.

Ketiga, dan ini yang paling krusial, yaitu Doktrin Dahiya akan mempercepat lahirnya Iran bertenaga nuklir.

Selama bertahun-tahun, Teheran berpegang pada “kesabaran strategis” (strategic patience), meyakini bahwa AS pada akhirnya akan memilih diplomasi rasional (Toossi, 2026). Menurut Sina Toossi, di Al Jazeera (11 Maret 2026), perang ini telah membuktikan keyakinan itu keliru.

Dengan gugurnya Ali Khamenei—satu-satunya institusi yang menjaga fatwa anti-nuklir—hambatan ideologis terbesar telah lenyap. Kepemimpinan baru yang diwariskan secara herediter kepada Mojtaba Khamenei mencerminkan mentalitas yang siap meninggalkan seluruh pengekangan masa lalu (Toossi, 2026).

Jika rezim ini berhasil terkonsolidasi dan selamat, pelajaran pertama yang akan mereka ambil adalah bahwa diplomasi adalah ilusi, dan satu-satunya bahasa yang dipahami lawan adalah kekuatan pemaksa—kekuatan yang hanya bisa dijamin oleh senjata nuklir. Israel, yang selama ini menjadikan pencegahan nuklir Iran sebagai alasan intervensi, justru sedang memastikan bahwa Iran tidak akan punya pilihan selain mengejar bom.

Dan, jika Iran kelak berhasil menguji perangkat nuklirnya, sejarah akan mencatat bahwa keputusan itu lahir dari Doktrin Dahiya yang dirancang untuk menghancurkan Iran—militernya dan masyarakat sipilnya. Amerika dan Israel mungkin mengira mereka sedang memenangkan perang, padahal mereka sebenarnya sedang menyulut api perang yang lebih besar lagi yang tidak mereka pikirkan.[]

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU