Sebelumnya, Trump juga mengeluarkan perintah eksekutif yang menghentikan semua bentuk bantuan luar negeri selama 90 hari, kecuali untuk bantuan kemanusiaan darurat.
Keputusan ini memicu reaksi keras dari berbagai pihak. Mantan Direktur USAID Global Health, Atul Gawande, mengingatkan bahwa kebijakan ini dapat berdampak pada jutaan penerima manfaat, termasuk pasien HIV yang bergantung pada program kesehatan USAID.
Dampak di Indonesia
USAID merupakan salah satu donor utama bagi sejumlah lembaga, terutama LSM, di Indonesia. Pada tahun 2024, USAID tercatat memberikan bantuan senilai 153,52 juta dolar AS atau sekitar Rp 2,5 triliun. Dana ini digunakan untuk program kesehatan, pendidikan, dan pembangunan berkelanjutan, termasuk penanggulangan TBC dan AIDS.
Beberapa mitra USAID di Indonesia antara lain Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), The Asia Foundation, dan organisasi Kemitraan. Penutupan USAID dapat mengganggu jalannya program-program ini dan berpotensi menghentikan proyek yang sedang berjalan.
Pemerintahan Trump juga sedang mempertimbangkan untuk menggabungkan USAID ke dalam Departemen Luar Negeri sebagai bagian dari kebijakan America First.
Langkah ini dianggap sebagai perombakan besar-besaran yang akan mengurangi jumlah tenaga kerja dan menyesuaikan pengeluaran dengan kepentingan dalam negeri AS.
USAID selama ini berperan sebagai alat diplomasi lunak AS. Dengan penutupan badan ini, banyak pihak khawatir bahwa bantuan kemanusiaan dan pembangunan global akan semakin dipolitisasi, sehingga menghambat akses bantuan ke negara-negara yang membutuhkannya.[]
sumber: tempo.co







