Refleksi Tahun Baru Hijriah: Merajut Kejayaan Masa Lalu untuk Kekuatan Masa Depan

Mari kita bicarakan keagungan universitas-universitas Islam kuno. Sebut saja universitas di Fustat, al-Azhar, al-Qarawiyyin, az-Zaytuna, an-Nizamiyyah, dan institusi lainnya.

Hingga hari ini, Universitas al-Azhar masih berdiri dengan kokoh. Begitu pula dengan al-Qarawiyyin, az-Zaytuna, serta Universitas al-Mustansiriya yang berada di Bagdad.

Mazhab-mazhab fikih tumbuh dan berkembang di tangan empat imam agung, yaitu Abu Hanifah, Malik, asy-Syafi’i, dan Ahmad bin Hanbal. Sementara itu, hadis-hadis Nabi dihimpun ke dalam kitab-kitab sahih yang sangat masyhur.

Fase ini melahirkan para imam ahli hadis terkemuka, seperti Imam Bukhari, Muslim, dan ahli hadis lainnya. Imam Ahmad bin Hanbal sendiri merupakan tokoh yang memadukan keahlian fikih dan hadis, di mana kitab karya beliau yang berjudul Musnad Ahmad sangat dikenal luas.

Perang Salib sempat menghentikan laju pertumbuhan peradaban Islam. Peristiwa kelam ini turut membekukan perkembangan ilmu pengetahuan, sastra, dan seni sepanjang abad ke-6 Hijriah.

Namun, kemenangan Salahuddin al-Ayyubi atas pasukan Salib dalam Perang Hittin yang legendaris menjadi titik balik yang besar. Keberhasilannya merebut kembali Baitulmakdis tercatat sebagai salah satu peristiwa paling agung dalam sejarah Islam.

Meskipun dikelilingi oleh atmosfer peperangan, Salahuddin adalah sosok yang sangat mencintai ilmu dan para ulama. Beliau mendirikan banyak sekolah serta universitas, sekaligus menaruh perhatian besar pada kesejahteraan para ilmuwan dan pelajar.

Pada abad ke-7 Hijriah, tanah Palestina akhirnya berhasil dibebaskan sepenuhnya dari cengkeraman penjajah Salib Eropa. Beberapa waktu kemudian, peristiwa penaklukan Konstantinopel menjadi salah satu tonggak sejarah paling penting bagi dunia Islam dan global.

Salah satu dampak terbesar dari penaklukan tersebut adalah meluasnya syiar Islam ke wilayah Eropa Timur. Namun setelah itu, dunia Islam didera musibah besar yang mengguncang eksistensinya, yaitu jatuhnya Granada dan hilangnya wilayah Andalusia dari genggaman kaum muslimin pada abad ke-9 Hijriah.

Kolonialisme Eropa kemudian datang menghancurkan dunia Islam. Mereka memusnahkan sebagian besar warisan sejarah, museum, hingga perpustakaan kaum muslimin.

Para penjajah ini juga memerangi ajaran Islam beserta bahasa Arab. Pada saat yang sama, mereka menyebarkan gerakan misionaris secara masif di berbagai tempat.

Lantas, apa yang harus kita lakukan sebagai umat Islam saat berada di ambang pintu abad ke-15 Hijriah ini? Dunia Islam wajib merapatkan dan menyatukan barisannya, serta menjaga seluruh warisan peradaban yang tersisa.

Kaum muslimin harus menguasai teknologi dan ilmu pengetahuan modern. Di sisi lain, universitas-universitas Islam harus saling bekerja sama demi menegakkan dakwah Islam dan mengikis kebodohan.

Integrasi ekonomi dan solidaritas antardunia Islam merupakan sebuah keniscayaan. Sinergi ini menjadi jalan utama yang akan mengantarkan umat menuju kekuatan yang hakiki.[]

Sumber: Al Arabiyatu Lin Nasyiin Jilid 6, oleh: Dr. Muhammad Abdul Mun’im Khafaji – (dengan editing pada paragraf pertama disesuaikan dengan abad dan tahun saat ini)

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU