Tak ada gedung parlemen dan istana negara di belahan dunia mana pun. Pagar pintu gerbangnya menyamai tingginya nyaris benteng Tembok Raksasa di China.
Ada sih pagarnya di gedung parlemen dan istana di kebanyakan negara Eropa dan Amerika. Namun, puncak tingginya rata-rata tidak sampai “sebujal” manusia saja yang tak bodongan lagi.
Menjadikan Indonesia terasa mempermalukan diri di wajah “demokrasi mondial”: ruang tempat menyatakan pendapat suara rakyat malah dikungkung bak penjara Alcatraz.
Makanya, jangan salahkan siapa-siapa setiap kali ada aksi demonstrasi itu harus diukur berapa eskalasi jumlah massanya yang akan hadir.
Itu bertujuan malah bukan untuk cipta kondisi menyampaikan supaya tuntutan aspirasi rakyat itu tercapai secara berkualitas.
Melainkan, upaya bagaimana agar pagar itu bisa jebol. Alias ambruk, itu sebagai simbolikum dari rasa puas dari jiwa pemberontak dan anarkisisme. Karena aspirasi tak pernah disambut baik dan terimplementasikan oleh DPR.
Makanya, mereka mengindentifikasi diri sebagai parlemen jalanan. Atau parlemen di luar pagar pintu Gerbang! Bukan parlemen meja atau mimbar di ruang sidang DPR atau istana.
Ironis, kadangkala dengan sangat terpaksa gerakan masyarakat sipil itu jadi brutal menjauhi hukum konstitusional. Paradoksnya, malah jadi nekat dengan kehendaknya “menghalalkan” hukum rimba!
Ini menimbulkan pihak lain dari kepolisian yang bertugas mengamankan pun harus pasang kuda-kuda bak garda pengamanan akan maju seolah sudah menghadap situasi chaos.
Padahal, yang dihadapi hanyalah civil society teriak-teriak. “Telanjang” tanpa senjata apa-apa selain lemparan batu dan pentungan bambu.
Dilawan oleh polisi seringkali dibarengi pengawalan TNI lengkap dengan baju tahan gas air mata, tameng anti pecah melindungi sekujur badan, water cannon, dan kendaraan taktis gegana. Belum lagi dipersenjatai andalan utamanya , tersedia ratusan gas air mata dilontarkan! Pengusir amuk massa aksi demonstran!
Dipahami 25–31 Agustus 2025 adalah demo aksi amuk massa sudah bukan murni lagi dalam penyampaian aspirasi. Ada penumpang gelap yang memprovokasi aksi demo amuk massa menjadi brutal dan anarkis. Dan peristiwa ini terjadi bukan pertama kali dalam sejarah di negeri ini.







