Plan B dan Jalan Iran Menuju Bom Atom

Oleh: Yanuardi Syukur, Pengajar Antropologi Globalisasi di Universitas Khairun, Ternate.

Perang AS-Israel terhadap Iran telah memasuki fase baru yang lebih mengerikan. Setelah gagal melumpuhkan kepemimpinan melalui serangan pembuka (Plan A), sebuah skenario yang telah diperingatkan oleh intelijen AS sendiri (Rogers, 2026), Washington dan Tel Aviv kini mengaktifkan strategi yang lebih brutal.

Paul Rogers, profesor emeritus studi perdamaian di Universitas Bradford dan penulis buku “Losing Control: International Security in the 21st Century” menjelaskan, Plan B tersebut terbagi dua elemen.

Pertama, AS-Israel melemahkan negara Iran dengan bekerja sama dengan kelompok minoritas seperti Kurdi dan mungkin Baluchi untuk memberontak dan mengkatalisasi fragmentasi Iran. Akan tetapi, plan tersebut kurang signifikan. Sebab Kurdi terlihat berhati-hati untuk mempercayai Israel – dan terlebih lagi, AS di bawah Trump.

Kedua, AS-Israel lebih berkonsentrasi pada pendekatan tradisional Israel dalam keadaan seperti ini, yaitu menghancurkan dukungan domestik musuh. Strategi ini dikenal sebagai Doktrin Dahiya (dahiya doctrine).

Menurut Paul Rogers doktrin tersebut mudahnya dipahami sebagai berikut: “…if an insurgency cannot be ended or the leadership of a state cannot be subdued, the route to victory lies with the relentless punishing of the civilian population” (Guardian, 11 Maret 2026).

Artinya: “…jika sebuah pemberontakan tidak dapat diakhiri atau kepemimpinan suatu negara tidak dapat ditundukkan, jalan menuju kemenangan terletak pada hukuman tanpa henti terhadap penduduk sipil.”

Implementasi Doktrin Dahiya (disebut juga Dahya atau Dahieh) berarti AS-Israel harus memindahkan target dari militer ke warga sipil, dari ‘pemenggalan kepemimpinan’ (eliminasi pemimpin tertinggi) ke penghancuran infrastruktur publik. Namun di balik retorika kemenangan yang digembar-gemborkan Donald Trump dan Pete Hegseth, doktrin ini—jika terus ditingkatkan oleh Amerika dan Israel—justru sedang membuka pintu menuju bencana terbesar di abad ini.

Ada tiga hal yang dapat kita analisis dari kemungkinan aplikasi plan B tersebut.

Pertama, AS dan Israel akan mengulangi kembali ‘kegagalan historis’ Doktrin Dahiya dalam skala yang lebih dahsyat.

Penerapan doktrin ini di Gaza selama 30 bulan terakhir telah menewaskan 70.000 warga sipil dan meratakan sebagian besar wilayah, namun Hamas tetap berdiri (Rogers, 2026). Hamas tetap eksis, dan yang pasti: tidak bisa ditumpas. Menerapkan logika yang sama pada Iran dengan populasi 93 juta jiwa—40 kali lipat Gaza—adalah kekeliruan kalkulasi yang fatal.

Alih-alih meruntuhkan rezim, penghancuran infrastruktur sipil justru memicu gelombang patriotisme yang mempersatukan faksi-faksi politik yang sebelumnya terpecah, sekaligus mengukuhkan legitimasi pemerintahan baru di mata rakyat yang merasa terancam (Toossi, 2026). Sejarah membuktikan bahwa bangsa yang diserang justru menemukan kohesi baru untuk mengobarkan perlawanan, bukan kerapuhan.

Kedua, implementasi Doktrin Dahiya akan semakin meningkatkan eskalasi dan tentu saja akan menghancurkan fondasi stabilitas kawasan Teluk yang telah dibangun dengan susah payah.

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU