Awas, ‘Burnout’ Pekerjaan Mengancam Jiwa! Ini Ciri dan Solusinya

Jakarta (Ngabarin.net)-Psikolog klinis Kasandra Putranto menekankan pentingnya mengenali sejumlah ciri seseorang yang mengalami kondisi burnout akibat tekanan pekerjaan.

Kondisi burnout ini, menurut psikolog lulusan Universitas Indonesia tersebut, termanifestasi dalam kelelahan emosional, fisik, dan mental yang disebabkan oleh stres kronis di lingkungan kerja.

Kasandra merinci ciri-ciri burnout berdasarkan tiga kategori utama, yaitu segi fisik, psikologis, dan perilaku kerja.

“Burnout fisik (ditandai) kelelahan menerus, gangguan tidur, mudah sakit,” tegas Kasandra kepada di Jakarta, Jumat (08/05) dilansir dari ANTARA.

Ia juga menjelaskan tanda-tanda dari sisi lainnya. “Dari sisi psikologis kehilangan motivasi, merasa tidak dihargai, mudah marah, sedangkan secara perilaku kerja mengalami penurunan produktivitas, sinisme terhadap pekerjaan, sering absen,” rincinya.

Kasandra memperingatkan adanya tanda psikologis yang sering diabaikan oleh pekerja yang sangat produktif, yaitu kelelahan emosional yang tidak kunjung hilang meskipun sudah beristirahat cukup.

Gejala ini disertai dengan perasaan datar atau kehilangan minat pada hal-hal yang dulu dianggap menyenangkan.

Pekerja juga mulai lebih mudah gelisah, sulit fokus, dan mengalami overthinking (berpikir berlebihan), terutama yang terkait erat dengan persoalan pekerjaan.

Kasandra menggarisbawahi pola perilaku kompulsif yang sering muncul pada penderita.

“Dalam banyak kasus, muncul pula dorongan untuk terus bekerja meski tubuh sudah lelah, karena merasa ‘tidak enak berhenti’ atau takut ketinggalan,” cetusnya.

Lebih lanjut, Kasandra menegaskan bahwa mengakses layanan kesehatan mental secara tepat dan konsisten adalah langkah krusial untuk membantu pemulihan dari kondisi burnout.

Pemulihan burnout dinilainya tidak selalu instan dan sangat bergantung pada tingkat keparahan, dukungan lingkungan, serta keterlibatan individu dalam proses pemulihan tersebut.

Kasandra memberikan jaminan bahwa kondisi ini bukanlah jalan buntu. “Burnout sindrom yang dapat dipulihkan melalui intervensi yang tepat,” tuturnya meyakinkan.

Akses terhadap layanan kesehatan mental seperti konseling psikologis, terapi perilaku kognitif (CBT), atau dukungan psikiatri dinilai mampu memberikan ruang bagi seseorang untuk memahami sumber stres, mengembalikan fungsi psikologis, dan memulihkan produktivitas kerja.

Faktor pendukung dalam pemulihan kondisi burnout mencakup langkah-langkah menjaga kesehatan dasar sebagai fondasi utama.

Langkah fondasional ini meliputi aktivitas seperti tidur yang cukup dan berkualitas, pola makan seimbang, serta hidrasi yang memadai.

Individu juga harus tegas menghindari konsumsi alkohol, kafein, dan zat adiktif lainnya secara berlebihan.

Meluangkan waktu pribadi untuk istirahat, rekreasi, hingga olahraga ringan di sela waktu kerja juga penting untuk menjaga sirkulasi dan konsentrasi.

Kasandra juga mengingatkan para pekerja agar berani menyisihkan waktu istirahat yang benar-benar “bebas” dari pekerjaan.

Pekerja harus mempertahankan aktivitas non-produktif yang memberi energi positif, seperti berinteraksi sosial atau menjalani hobi tanpa target tertentu.

Kasandra menutup penjelasannya dengan sebuah peringatan yang tajam mengenai prioritas hidup.

“Intinya produktivitas tetap penting, tetapi tanpa pemulihan dan keseimbangan, kinerja justru akan menurun dan biaya psikologisnya jauh lebih besar dalam jangka panjang,” ujarnya tegas.[]

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU