Saat ini kita berada di pertengahan abad ke-15 Hijriah. Pada permulaan tahun 1448 H ini, kita melepas satu tahun dan menyambut tahun yang baru.
Kita mengenang sejarah panjang yang telah dilewati oleh Islam dan kaum muslimin selama 1447 tahun. Kita juga menatap lembaran sejarah baru yang kita tulis sendiri sekaligus merancang strategi demi masa depan.
Sungguh banyak kenangan yang tersimpan. Kenangan-kenangan itu terasa manis sekaligus pahit secara bersamaan.
Sungguh agung apa yang telah ditorehkan oleh Dunia Islam Timur selama berabad-abad demi kemanusiaan, kehidupan, ilmu pengetahuan, dan peradaban. Di sisi lain, sungguh berat cobaan dan petaka yang pernah menimpanya.
Ini adalah sebuah sejarah yang panjang dan hari-hari yang tidak akan pernah terlupakan. Bagaimana mungkin kita melupakan sejarah yang telah kita ukir dengan tetesan darah?
Allah telah membentuk Dunia Islam Timur ini untuk mengibarkan panji, menyampaikan risalah, serta menyebarkan kebudayaan dan peradaban ke seluruh penjuru dunia selama empat belas abad terakhir.
Tanyakanlah kepada Makkah dan Madinah. Tanyakan pula kepada Damaskus, Fustat, dan Kairo.
Mari kita bertanya kepada Kairouan, Fes, Kordoba, dan Sevilla. Setelah itu, kembalilah melayangkan pertanyaan kepada Bagdad, Gorgan, Isfahan, Shiraz, Samarkand, dan Bukhara.
Tanyakanlah kepada seluruh ibu kota Islam di berbagai penjuru dunia Islam yang luas ini tentang sumbangsih mereka bagi umat manusia. Mereka telah melahirkan para ilmuwan, penemuan ilmiah, karya tulis, teori, hingga gagasan besar.
Tanyakan pula tentang universitas, lembaga pendidikan, sekolah, dan perpustakaan yang pernah berdiri tegak di sana. Jangan lupakan para sastrawan, penulis, pemikir, filsuf, pakar fikih, serta panglima perang yang lahir dari rahim kota-kota tersebut.
Kota-kota Islam ini terbukti telah merawat banyak museum, peninggalan bersejarah, hingga manuskrip kuno.
Ketika menengok kembali sejarah, kita pasti akan bertanya-tanya. Apakah waktu akan kembali bermurah hati melahirkan sosok sekaliber Abu Bakar, Umar, Abu Ubaidah, Ali, dan Amr bin al-Aash?
Apakah zaman akan kembali melahirkan pemimpin agung seperti Harun ar-Rasyid, al-Ma’mun, dan Salahuddin al-Ayyubi? Atau panglima perkasa seperti Khalid bin Walid dan Saad bin Abi Waqqas?
Apakah dunia akan kembali dianugerahi pemikir genius layaknya al-Kindi, al-Farabi, Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Ibnu Tufail, al-Ghazali, dan tokoh-tokoh besar lainnya?







