Anies Rasyid Baswedan: Sang Pembaharu dan Pengubah

Jika Anies Rasyid BAswedan (ARB) memimpin negeri ini, seutuhnya dialah pembaharu dan pengubah. Dari segala bentuk status quo, conditio sine qua non dan legacy buruk.

Karena beliau bukan terafiliasi partai mana pun. Anies juga bukan dari dinasti politik tertentu. Tetapi, legitimasi kepemimpinan dia berasal dan terlahir dari rahim dan suara murni rakyat kelas menengah yang berintelektualitas dan berkesadaran akal sehat.

Terbentuk dari masyarakat kepeloporan dalam pembaharuan yang dalam teori maupun praksis politik modern di manapun di negara mondial akan bertujuan melakukan revolusi perubahan radikal dan nyata.

Maka, Anies berada di lingkaran masyarakat yang mulai bercikal bertumbuh yang terakomodasi secara mandiri dalam politik kepemilihan; seiring bertunas pula masyarakat reformis dan madani yang menyemaikan kesuburan kesetaraan dan demokratisasi kemodernan; yang di dalamnya ada penguatan kepada konsensus dan concentia yang berkesadaran kepada norma, etika dan moralitas; serta selalu berpedoman pada tata tertib hukum_amicus curiae_ yang dalam praksis tata negara dan berbangsa selalu menegakkan supremasi hukum; dan dari seluruhnya akan menjelma masyarakat imani, masyarakat religiusitas di seluruh agama yang menegakkan keimanan dan ketakwaannya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Tak bukan manifes Pancasila dan UUD 1945.

Itulah yang terengkuh di genggaman tangannya ketika Pilpres 2024 berjumlah 26% atau sekitar 40 juta pendukungnya berasal dari masyarakat kelas menengah itu. Terfilterisasi dan terdifraksi dari 280 juta massa mayoritas terkontaminasi kecurangan dan kelicikan rezim ”black incumbent” Jokowi-Gibran inkonstitusional.

Maka, ketika Anies terlahir dari masyarakat kelas menegah seperti itu dasar haluan yang melekat dan melingkari visi dan misi kepemimpinannya, adalah penguatan kepada kepentingan penegakkan demokrasi, meritokrasi dan teknokrasi kelak.

Dengan demikian Anies akan anti politik dinasti yang keberadaan di negeri ini semakin tebal dan bebal (dinasti politik Soekarno-Megawati-Puan Maharani; Soeharto-Prabowo; SBY-AHY; Jokowi-Gibran-Kaesang-Bobby Nasution); anti KKN penyakit kanker yang telah melapisi dan menyelimuti negeri secara struktural, masif dan sistemik (sampai OCRRP membaiat Jokowi dan Indonesia negara terkorup ketiga di dunia); dan anti oligarki penguasaan ekonomi hanya oleh segelintir orang (kok bisanya sampai ada sebutan Sembilan Naga).

Ketiga penyakit kanker kronis inilah yang telah mengakibatkan disparitas kesenjangan terjadinya ketidakadilan, kebodohan dan kemiskinan yang terus bertambah di Indonesia hingga sekarang ini.

Maka, Anies sebagai pembaharu dan pengubah harus merebutnya dari segala kepentingan kelompok dan strata hegemonik yang merusak itu untuk dikembalikan sepenuhnya kepada kemandirian kedaulatan rakyat!

Pun manifes pembangunannya harus bersandar kepada kepentingan kemandirian kedaulatan rakyat. Kedaulatan pada pembangunan mandiri sumber daya manusia (pendidikan dan kesehatan); kedaulatan pada pembangunan mandiri sumber daya mineral (dari hulu hingga hilirisasi); kedaulatan pada pembangunan mandiri kedaulatan energi (konvensional dan terbarukan); kedaulatan pada pembangunan mandiri pangan (potensi lahan dan maritim).

Dan Anies tengah menempuh perjalanan kepemimpinannya menuju di ufuk 2029 itu dengan nurbuat rakyat dan Allah SWT menyertainya! Vox Populi Vox Dei. Tunggu saja! Wallahu a’lam Bisshawab.

Babakan Mustikasari, Bekasi, 14 September 2025

Dairy Sudarman, Pemerhati politik dan kebangsaan

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU