Arkeolog Palestina Selamatkan Warisan Budaya Gaza

Ini merupakan upaya lokal terorganisasi pertama yang menangani dampak perang terhadap landmark bersejarah di kawasan tersebut. Tim ini bekerja sama erat dengan warga lokal dan pengungsi yang menemukan artefak di antara hamparan puing-puing bangunan.

“Kami menindaklanjuti laporan dengan terlebih dahulu mengisi survei komprehensif yang memuat identitas pelapor, lokasi artefak, dan kondisinya,” ujar al-Natour.

“Tim kemudian menuju ke lokasi untuk menyelamatkan benda tersebut, lalu memulai tahapan pemrosesan: pembersihan, pengarsipan, dan pemotretan.”

Tim menerapkan protokol ketat untuk memastikan nilai sejarah dan spasial dari setiap peninggalan yang ditemukan tetap terjaga, mulai dari mencatat kondisi penemuan hingga memberikannya identitas digital khusus.

“Setelah menyelamatkan peninggalan dari lokasinya, proses dokumentasi dan pengarsipan dimulai. Kami berupaya semaksimal mungkin untuk tidak memasukkan artefak apa pun ke tempat penyimpanan tanpa catatan dan informasi dasar guna mengenali asalnya,” kata al-Natour.

“Kami memulai dengan mencatat lokasi, memotretnya dari berbagai sudut, dan menghubungkan foto-foto tersebut dengan nomor atau kode unik agar tidak tertukar.”

Tim bertekad untuk mempertahankan informasi, foto, kode unik, dan asal-usul setiap artefak yang ditemukan meskipun menghadapi hambatan yang sangat berat.

Benda-benda arkeologi tertentu, terutama yang berbahan tembikar dan kaca, mengalami tekanan fisik hebat akibat ledakan dan reruntuhan bangunan sehingga menyebabkan retakan. Benda-benda tersebut membutuhkan kecermatan ekstra saat ditangani, di mana tim menerapkan kebijakan intervensi minimal dan stabilisasi melalui pertolongan pertama konservasi. Mereka menyadari bahwa restorasi permanen justru dapat menimbulkan kerusakan permanen atau mengubah ciri aslinya.

Proses dimulai dengan memeriksa setiap benda, mencatat kondisinya, dan memotret bagian yang mengalami kerusakan. Namun, langkah mereka terhalang oleh keterbatasan alat teknis: hanya mengandalkan ponsel untuk pemotretan resolusi tinggi dan catatan kertas sejajar untuk mencegah kehilangan data dari lembar kerja Excel.

Label identitas berisi nomor unik dipasang pada setiap artefak, sementara bahan pengemas sederhana dan peti kayu digunakan untuk menyimpan benda-benda tersebut. Kuas berbulu halus digunakan secara perlahan untuk membersihkan debu permukaan pada tembikar tanpa merusak tanda aslinya.

Meskipun peralatan ini menjadi solusi jangka pendek bagi masalah konservasi, metode yang lebih profesional tetap bergantung pada ketersediaan peralatan dan sumber daya khusus yang saat ini tidak mereka miliki. Memperoleh peralatan tersebut sangat sulit dilakukan di zona perang.

“Di masa perang, terkadang pencapaian terbesar adalah sekadar menghentikan kerusakan artefak dan menjaga keutuhannya sebisa mungkin hingga kondisi yang memadai untuk penanganan spesialis tersedia,” tuturnya.

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU