Arkeolog Palestina Selamatkan Warisan Budaya Gaza

Bekerja di dalam tenda di wilayah pesisir membuat bahan-bahan yang diselamatkan terpapar perubahan cuaca yang ekstrem, serta ancaman serangga dan hewan pengerat. Faktor lingkungan yang merusak seperti kelembapan, jamur, dan getaran juga mengancam artefak serta kotak kayu tempat penyimpanannya.

“Peti kayu itu sendiri memerlukan pemantauan terus-menerus karena fluktuasi kelembapan dan suhu dapat membusukkan kayu atau memicu pertumbuhan jamur yang merusak isi di dalamnya,” kata al-Natour.

“Selain itu, pemindahan dan pengangkutan peti dari satu tempat ke tempat lain berisiko menimbulkan guncangan dan getaran pada artefak, terutama benda yang rapuh atau pecah… Bekerja di area yang dihuni sejumlah besar pengungsi membuat mobilitas harian menjadi jauh lebih sulit, sementara ruang penyimpanan sangat terbatas.”

Anggota tim “Guardians of Heritage” memeriksa dan membersihkan tembikar arkeologi yang berhasil diselamatkan di dalam tenda penyimpanan sementara di al-Mawasi, Gaza selatan. [Enas Naser/Al Jazeera]

Solusi ideal untuk masalah ini adalah menyediakan ruang penyimpanan yang stabil di mana suhu, kelembapan, ventilasi, dan pencahayaan dapat dikontrol. Bahan pengemasan dan pengawetan khusus yang sesuai untuk tiap jenis peninggalan arkeologi juga sangat dibutuhkan, beserta alat pemantau kondisi lingkungan di dalam ruang penyimpanan.

“Kebutuhan terbesar kami adalah beralih dari penyelamatan darurat menuju konservasi profesional jangka panjang,” kata al-Natour.

“Selain itu, kami membutuhkan pelatihan khusus dalam konservasi preventif, manajemen koleksi darurat, penanganan artefak yang rusak, penilaian kerusakan, dan pengelolaan basis data.”

Tim kini merencanakan tahap operasi berikutnya, yaitu memindahkan peninggalan dari tenda ke lokasi yang lebih aman. Namun, ini akan menjadi proses panjang yang memerlukan peninjauan catatan dan basis data, pencocokan nomor benda dengan isi peti, pemotretan kondisi sebelum dan sesudah dipindahkan, serta penataan ulang untuk memastikan kemudahan akses dan pelacakan.

Dampak dari inisiatif ini tidak hanya sebatas menyelamatkan batu bersejarah dan bejana kuno, tetapi juga membangun kesadaran komunitas yang menjadikan warga lokal dan pengungsi sebagai penjaga budaya, sejarah lisan, serta warisan mereka sendiri.

“Melalui kegiatan bersama anak-anak, pemuda, perempuan, dan pengungsi, kami menyelenggarakan kegiatan edukasi dan lapangan yang disederhanakan, lokakarya, serta program yang berkaitan dengan purbakala, kerajinan tradisional, dan sejarah lisan. Kami mendorong peserta untuk bertanya dan mendokumentasikan kisah-kisah yang terikat pada tempat dan artefak,” tutur al-Natour.

Meski diliputi berbagai tantangan, terdapat pelajaran berharga dalam upaya menyelamatkan warisan budaya Gaza.

“Proses penyelamatan itu sendiri telah menjadi sarana edukasi. Ketika masyarakat melihat sebuah tim bekerja dalam kondisi seperti ini untuk mengangkat peninggalan bersejarah dari balik reruntuhan, mereka mulai memandang warisan budaya sebagai sesuatu yang patut dilindungi, bukan sesuatu yang boleh diabaikan di masa krisis,” pungkas al-Natour. “Kami meyakini bahwa kesadaran masyarakat adalah salah satu benteng pertahanan yang paling utama.”[]

Sumber: Aljazeera.com

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU