Oleh: Hana Annisa Afriliani, S.S., Praktisi Pendidikan dan Aktivis Dakwah.
Dunia pendidikan kembali berguncang. Kali ini dengan adanya kasus kekerasan yang dilakukan oleh seorang mahasiswa fakultas Syariah dan Hukum UIN Sultan Syarif Kasim (Suska), Riau, RM (21) terhadap teman wanita yang disukainya, FAM (23). Motifnya diduga karena sakit hati akibat cintanya tidak terbalas.
Beredar di media, bahwa RM dan FAM sudah pernah menjalin kedekatan, namun ternyata FAM sudah memiliki kekasih yang selama ini dijalani secara LDR. Kedekatan antara RM dan FAM tersebut terlihat dari adanya foto-foto romantis keduanya di akun media sosial RM. Namun, karena kisah asmara itu akhirnya harus berakhir karena sang wanita sudah memiliki kekasih, RM pun sakit hati dan akhirnya membacok FAM di lantai 2 gedung fakultas saat korban sedang menunggu sidang proposal skripsi. Akibatnya korban mengalami luka berat akibat terkena kapak di bagian kepala, lengan dan punggung. (CNN Indonesia.com/27-02-2026)
Pelaku RM dijerat sesuai dengan Pasal 469 undang-undang KHUP Nasional No 1 tahun 2023 tentang penganiayaan berat yang telah direncanakan. Ancamannya 12 tahun penjara.
Asmara dalam Balutan Liberalisme
Pergaulan muda-mudi hari ini tak bisa dilepaskan dari gaya hidup liberal ala Barat. Mereka bergaul bebas hampir tanpa batas, bahkan berzina menjadi hal biasa. Adapun salah satu pintu zina adalah pacaran. Dan ini pun menjadi sesuatu yg jamak dilakukan oleh generasi muda hari ini. Padahal dalam pandangan Islam, pacaran merupakan sesuatu yang dilarang dengan tegas karena mendekati pada perzinaan.
Sebagaimana firman Allah Swt,
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنٰىٓ اِنَّهٗ كَانَ فَاحِشَةًۗ وَسَاۤءَ سَبِيْلًا ٣٢
Janganlah kamu mendekati zina. “Sesungguhnya (zina) itu adalah perbuatan keji dan jalan terburuk. (QS. al-Isra: 32)
Faktanya, pacaran menjadi hal yang lumrah dilakukan muda-mudi hari ini. Justru tak pacaran dianggap tidak normal. Padahal pacaran memunculkan banyak mudarat, tak hanya bagi akhirat yang sudah pasti yakni dosa, tetapi juga bagi dunia. Orang yang pacaran akan terjerat dengan hubungan semu, mereka terikat dalam ikatan imajiner. Pacaran juga membuat fokus generasi muda untuk mengkaji ilmu menjadi pudar, karena hati dan pikiran hanya tertuju pada sang pujaan hati semata. Bahkan pacaran juga seringkali kebablasan pada aktivitas seks yang tidak seharusnya dilakukan oleh pasangan belum menikah. Akibatnya kehamilan di luar nikah banyak terjadi, akhirnya aborsi atau pembuangan bayi pun menjadi fenomena yang marak dilakukan. Miris!
Oleh karena itu, asmara dalam balutan liberalisme akan memunculkan banyak persoalan karena dibangun bukan dalam kerangka halal. Inilah petaka sistem pergaulan sekuler liberal ala Barat. Peradaban menggebu atas nama cinta sepasang kekasih menjadi petaka yang menggerus identitas generasi muda hari ini sebagai agent of change.
Generasi Muslim Harapan Peradaban
Sangat disayangkan jika generasi muda muslim hari ini tersedot perhatian dan pemikirannya dalam urusan asmara belaka, bahkan akhirnya memandulkan potensinya sebagai agen perubahan. Hal ini tentu tidak bisa dilepaskan dari sistem sekuler liberal yang menginfeksi benak-benak generasi Muslim hari ini. Mereka tidak menjadikan agama sebagai fondasi dalam berbuat, sehingga hawa nafsu yang menjadi panglima dalam dirinya.
Krisis identitas sebagai muslim sejati memang terjadi di tengah generasi muda hari ini. Mereka tidak menjadikan Islam sebagai sistem hidupnya, melainkan hanya meletakkan Islam sebatas agama ritual semata. Akibatnya dalam memutuskan segala amal tidak ditimbang berdasarkan hukum syariat, melainkan tren di tengah masyarakat dan didorong oleh hawa nafsu.
Padahal sejatinya generasi muda muslim adalah harapan peradaban masa depan. Baik buruknya sebuah peradaban bergantung pada kualitas generasinya. Oleh karena itu, dibutuhkan adanya sistem yang komprehensif yang mampu mengintegrasikan nilai-nilai yang sahih dalam membentuk generasi berkualitas. Salah satunya adalah sistem pendidikan yang berbasis Islam, sehingga dengan itulah akan terwujud generasi berkepribadian Islam.
Kepribadian Islam akan menjadikan seseorang takut berbuat yang melanggar syariat. Mereka juga akan memiliki mental yang kuat dan tak mudah rapuh dalan urusan yang remeh-temeh, terlebih dalam urusan asmara belaka. Karana generasi berkepribadian Islam akan memusatkan perhatiannya pada upgrading diri menjadi yang terbaik di hadapan RabbNya. Mereka pun sibuk melakukan amal-amal saleh demi menorehkan pahala bagi bekal akhiratnya.
Tak hanya sistem pendidikan, dibutuhkan juga sistem ekonomi, sistem sosial, dan sistem pemerintahan Islam, agar terwujud iklim kehidupan berasaskan syariat Islam Kaffah. Oleh karena itu, hanya dengan tegaknya Khilafah sebagai institusi yang akan mampu menjadi wadah bagi diterapkannya Islam kaffahlah satu-satunya solusi bagi terwujudnya generasi berkualitas pembangun peradaban. Wallahu’alam bis shawab.







