Mathla’ul Anwar berencana untuk membangun kolaborasi global, memperkenalkan platform dakwah digital yang dapat menghubungkan umat Islam di berbagai negara, serta memperluas akses pendidikan di daerah-daerah terpencil.
Salah satunya adalah rencana pendirian perguruan tinggi di Lampung, yang diharapkan dapat menjadi pusat pengembangan pendidikan yang berbasis pada nilai-nilai Islam moderat dan kebudayaan lokal.
Rencana ini juga akan mencakup riset tentang kebutuhan pendidikan lokal serta kemitraan dengan pemerintah dan universitas lain.
Selain pendidikan, Rakernas Mathla’ul Anwar juga mengusung pemberdayaan sosial dan ekonomi sebagai agenda utama.
Salah satu program yang akan dikembangkan adalah pemberian makan bergizi gratis di sekolah-sekolah, yang tidak hanya berfokus pada kesehatan anak-anak, tetapi juga memberdayakan UMKM lokal dengan menyediakan bahan makanan dari usaha kecil setempat.
Selain itu, Mathla’ul Anwar juga berencana membangun pusat pemberdayaan ekonomi berbasis masjid, dengan melibatkan masyarakat dalam pelatihan keterampilan dan pengembangan usaha mikro.
Upaya pemberdayaan ekonomi berbasis masjid ini tidak hanya memperkuat kehidupan ekonomi masyarakat, tetapi juga menciptakan ruang bagi dakwah yang lebih terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan pendekatan ini, Mathla’ul Anwar tidak hanya mengajarkan agama, tetapi juga menghidupkan peran masjid sebagai pusat pengembangan masyarakat secara menyeluruh.
Tidak bisa dipungkiri, teknologi digital telah menjadi bagian integral dari kehidupan kita saat ini. Untuk itu, dakwah digital menjadi bagian penting dari strategi Mathla’ul Anwar ke depan.
Salah satu inisiatif besar yang akan diluncurkan dalam Rakernas 2024 adalah pelatihan dakwah digital untuk dai lokal, yang difokuskan pada pembuatan konten dakwah yang mudah diakses oleh generasi muda.
Platform dakwah digital yang sedang dikembangkan ini bertujuan untuk menyebarkan pesan-pesan Islam yang moderat dan damai dengan cara yang lebih efektif dan sesuai dengan cara hidup anak muda zaman sekarang.
Melalui pelatihan ini, dai lokal diharapkan dapat memanfaatkan media sosial dan platform digital lainnya untuk menyebarkan dakwah yang lebih inklusif, tanpa mengabaikan nilai-nilai budaya yang ada di masyarakat.







