Dan seperti adanya Geng Solo yang masih semakin kelihatan sumir. Justru sebaliknya boleh jadi tengah terbentuk baru arus sintom anonim adanya “Geng Jakarta”. Semakin menjadi realita yang sulit tak terbantahkan tengah terus memacu melakukan gerakan perlawanan secara hukum.
Tetapi, tak terlegitimasi oleh kepentingan adanya kontrak-kontrak politik tertentu. Apalagi terafiliasi oleh adanya kekuatan besar mem-backing-i. Geng Jakarta sama-sama menjadi anasir politik. Namun, masih melenggang dalam kancah dinamika politik itu yang bebas-bebas saja. Datang dari pelbagai komponen independen. Semua gerakannya bermuara pada penegakan supremasi hukum dengan senjata mitraliurnya pelbagai legal standing kasus yang telah dipatahkan dan dilanggar oleh pucuk kekuasaan Geng Solo.
Itulah pula kenapa Geng Jakarta selalu mengibarkan bendera biru revolusi sosial politik. Dengan misi yang takkan pernah luntur dalam kejuangan dan perjuangannya untuk mengadili Jokowi dan memakzulkan Gibran.
Dan bagi Prabowo tak mudah juga memberikan ruang sebagai “selang-selang saluran suara aspirasi menandai demokrasi” itu harus dijegal atau dibarikade.
Prabowo yang masih dekat dan merapat dengan Geng Solo akan menjadi blunder bagi dirinya ketika berhadapan dengan kepentingan terjadinya distabilitas perekonomian yang kelihatan masih dikuasai Geng Solo via kesatuan LGBT di Kabinetnya.
Itulah dilema Prabowo menghadapi kedua geng itu sama-sama berada di ujung tanduk “pemakzulan”! Bagi dirinya maupun Gibran.
Pertanyaan yang harus dijawab oleh Prabowo termasuk publik sendiri, adalah “Mana yang dapat lebih dipercaya antara Geng Solo atau Geng Jakarta itu? bagi kemaslahatan rakyat, bangsa dan negara ini?” Wallahu a’lam Bisshawab.
Mustikasari Bekasi, 19 Agustus 2025
Dairy Sudarman, Pemerhati politik dan kebangsaan.







