Geng Solo vs Geng Jakarta

Geng-geng ini sudah jadi momok publik. Di antara ada dan tiada. Tetap saja seolah tersembunyi dalam senyap. Tengah sama-sama mengintai kursi singgasana di salah satu ruang prabayaksa Istana.

Eksistensialisme sudah seperti layar latar lakon pewayangan politik. Berbareng gamelan ditabuh: dimulailah tutur ceritanya. Yang bisa dikendalikan oleh dalangnya masing-masing melakonkan arus narasi utama berupa “pemakzulan raja” membayang-bayangi:

Gerakannya semacam suatu anasir yang saling menghantui. Dikarenakan muaranya untuk sebagian publik itu dan sebagian lainnya lagi sebagai ancaman akan menakutkan dan mengerikan bagi kelangsungan keutuhan bangsa ini.

Eksistensi luar biasa dari geng-geng ini, adalah bermula relasinya dengan legacy politik eks rezim berkuasa Jokowi sekalipun telah lengser. Geng ini bareng the big boss-nya di Solo itu merasa masih memiliki andil kuat bagi berdiri dan berkuasanya rezim penguasa pemerintahan Prabowo sekarang.

Dipertemukan oleh semacam idiologi altruisme perkawinan dualisme elite politik ambisius. Pinangannya terikat tali berenda dari antara kawan dan musuh politik lama Prabowo dengan Jokowi sendiri di dua pertarungan Pilpres 2014 dan 2019.

Yang kini telah diprakarsai oleh Prabowo setelah berkuasa menjadi Presiden berkeinginan menjelmakannya sebagai suatu keyakinan empowerment bahwa rekonsiliasi politik itu bakal mempersatukan semua.

Padahal, di level politik grassroot — yang selalu menyemaikan terbukanya lapangan ajang politik polarisasi horizontal— hal itu sebagai suatu mustahil terjadi.

Mengingat, pendukung Prabowo yang tidak menginginkan rekonsiliasi itu, di Pilpres 2024 mendukung Anies. Sementara, Jokowi yang menggandeng Prabowo, menjadi “musuh abadi” Anies.

Apalagi, dalam memoar politik perebutan dalam bingkai “peralihan kekuasaan” melalui Pilpres 2024 telah tercetak jejak digitalnya di kubu Anies dan Ganjar : telah terjadi kecurangan Pemilu dan pelanggaran konstitusional pencalonan Gibran.

Sekalipun menjadi tak “terabsahkan” dikarenakan begitu _powerfull_nya kekuatan Jokowi-Prabowo di semua lini (peran pengaruh keterlibatan permainan kotor lembaga-lembaga tinggi negara, koalisi parpol dan kolusi oligarki) mengantarkan tampuk pasangan Prabowo-Gibran itu menjadi.

Ditambah perseteruan terhadap Jokowi yang tengah dibangun oleh Megawati Soekarnoputri semakin tampak jelas: Megawati tetap tak hadir di peringatan HUT ke-80 RI lalu di Istana Merdeka saat Jokowi hadir. Menunjukkan kebekuan jalan bagi terjadinya rekonsiliasi itu semakin lekat dan pekat melegitimasi.

Sekalipun Prabowo telah memberikan kado spesial pula jelang peringatan proklamasi itu kepada Hasto amnesti dan Tom Lembong abolisi.

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU