Umat pun terpecah-belah menjadi berbagai sekte dan faksi politik yang saling bertikai secara internal. Akibatnya, mereka terjebak pada romantisme masa lalu seraya mengabaikan realitas masa kini, hingga puncaknya kualitas terbaik umat lain terletak pada masa kini mereka, sedangkan kualitas terbaik kita tertinggal di masa lalu kita.
Manifestasi Maskulinitas Sejati di Era Modern
Hakikat maskulinitas sejati yang saya maksud di sini adalah sebuah parameter universal yang merangkum seluruh karakter kehormatan. Karakter tersebut meliputi kemandirian, harga diri, komitmen total terhadap tugas, serta kesiapan penuh untuk melindungi keluarga, bangsa, dan agama dari segala bentuk kezaliman.
Nilai luhur ini dapat diaktualisasikan dalam setiap profesi kehidupan manusia tanpa sekat kedudukan. Seorang menteri yang memiliki karakter ini akan memandang kursinya sebagai sebuah amanah tanggung jawab, bukan fasilitas kehormatan, serta lebih mementingkan kemaslahatan bangsa di atas kepentingan pribadinya.
Demikian pula seorang ilmuwan sejati, ia akan mendedikasikan ilmunya demi kemaslahatan masyarakat tanpa mengeluhkan kepayahan dalam menemukan sebuah teori baru. Ia akan menjadi penjaga kebenaran yang objektif, yang tidak memuja hal baru hanya karena kebaruannya dan tidak membenci hal lama hanya karena kekunoannya.
Seorang pekerja industri yang tangguh pun akan terus berinovasi mengembangkan kualitas produksinya hingga mencapai standar tertinggi di dunia. Ia menanamkan jiwa nasionalisme dalam profesinya, serta dengan tegas menolak keuntungan melimpah yang diperoleh dari hasil kecurangan.
Karakter ini bahkan termanifestasi dalam dimensi nilai kolektif kemasyarakatan. Opini publik yang sehat dan berkarakter adalah opini publik yang peka, yang tahu bagaimana cara melawan kezaliman serta konsisten menghargai kebaikan.
Kurikulum Maskulinitas: Dari Rumah hingga Perguruan Tinggi
Hari ini kita sangat membutuhkan sebuah kurikulum terpadu untuk membentuk karakter maskulinitas, sebagaimana kurikulum yang disusun untuk sistem pendidikan formal. Proses pendidikan karakter ini harus dimulai sejak dini di dalam lingkungan keluarga.
Anak-anak harus diajari cara memegang teguh ucapan yang keluar dari lisannya serta bersikap sportif dalam dunia permainan mereka. Mereka dididik untuk memperlakukan teman sebayanya dengan prinsip kesetaraan, kejujuran, dan ketulusan.
Kurikulum ini harus mengawal perkembangan murid di sekolah agar mereka memiliki harga diri dan integritas moral yang kokoh. Mereka dididik untuk tidak melakukan pelanggaran atau berbuat curang dalam ujian, meskipun luput dari pengawasan guru, serta aktif membantu teman yang lemah.
Pada tingkat perguruan tinggi, kurikulum ini harus membiasakan mahasiswa untuk memiliki kebanggaan terhadap identitas agama dan bangsanya. Pendidikan tinggi harus mengarahkan mereka untuk memiliki tujuan hidup yang mulia, sehingga saat lulus, mereka siap menjadi hakim, politisi, dan manusia yang berkarakter tangguh.[]
(Disadur dari karya Ahmad Amin, dalam Al-Arabiyyah Lin Nasyiin Jilid 6)







