Hakikat Maskulinitas Sejati dalam Islam

Satu di antara perbedaan paling fundamental antara generasi awal umat Islam dan generasi kontemporer terletak pada karakter maskulinitas sejati (al-rujulah). Generasi awal Islam dipenuhi oleh sosok-sosok yang menjadi simbol nyata bagi keluhuran, keagungan, dan kehormatan martabat.

Prinsip ini tecermin kuat pada pribadi Nabi Muhammad saw. Beliau dengan keteguhan iman yang mutlak pernah menyatakan, “Demi Allah, seandainya mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan urusan dakwah ini hingga Allah memenangkannya atau aku binasa karenanya, niscaya aku tidak akan pernah meninggalkannya.”

Keteladanan Rasulullah dan Generasi Sahabat

Rasulullah saw. merupakan sosok manusia yang paling sempurna maskulinitasnya dalam setiap fase kehidupan beliau. Seluruh rekam jejak kehidupan beliau adalah rangkaian manifestasi dari jiwa kepahlawanan, iman yang tak tergoyahkan oleh badai penderitaan, serta konsistensi dalam membela kebenaran.

Beliau senantiasa berorientasi pada perkara-perkara yang mulia dan menjauhkan diri dari hal-hal yang remeh. Bahkan saat wafat, beliau tidak meninggalkan gelimang harta benda sebagaimana para penguasa, melainkan mewariskan prinsip-prinsip abadi serta mencetak kader-kader ideologis yang siap memperjuangkannya dengan jiwa dan harta.

Lembaran sejarah para sahabat Nabi dan generasi setelah mereka juga sarat akan contoh maskulinitas yang agung. Karakter paling menonjol pada diri Khalifah Umar bin Khattab r.a. adalah ketegasannya dalam menegakkan kebenaran tanpa pandang bulu terhadap siapa pun.

Dalam sebuah khotbahnya yang monumental, Umar r.a. menegaskan, “Wahai manusia, demi Allah, tidak ada seorang pun di antara kalian yang lebih kuat di mataku melebihi orang yang lemah sampai aku berhasil mengambil haknya kembali, dan tidak ada yang lebih lemah di mataku melebihi orang yang kuat sampai aku berhasil mengambil hak dari tangannya.” Beliau juga sangat menekankan pentingnya mendidik anak-anak agar memiliki mentalitas yang tangguh.

Umar r.a. pernah berpesan, “Ajarilah anak-anakmu berenang, memanah, perintahkanlah mereka agar mahir menunggangi kuda, dan riwayatkanlah kepada mereka syair-syair yang indah.” Dalam mengawasi roda pemerintahan, beliau bersikap sangat ketat kepada para gubernurnya agar selalu mengutamakan keadilan yang setara bagi seluruh lapisan rakyat tanpa distorsi nafsu maupun suap.

Rahasia Kejayaan Islam dan Dekadensi Moral

Generasi awal Islam memancarkan karakter maskulinitas dalam seluruh dimensi kehidupan mereka. Kita akan dibuat takjub saat membaca sejarah bagaimana masyarakat Arab Badui yang tidak pernah mengenyam pendidikan politik formal, justru mampu tampil menjadi pemimpin dan rujukan peradaban dunia.

Karakter tangguh yang diinjeksikan oleh Islam inilah yang mengangkat derajat mereka hingga mampu menaklukkan bangsa-bangsa dengan peradaban yang paling maju. Ekspansi yang mereka lakukan pun bukan sekadar penaklukan militer yang mengandalkan otot, melainkan sebuah transformasi tata kelola administrasi dan keadilan hukum yang mencerahkan dunia.

Satu di antara bukti keadilan tersebut adalah ketika putra gubernur Mesir, Amr bin bin Al-Ash, memukul seorang rakyat jelata asal Mesir secara semena-mena. Khalifah Umar bin Khattab segera memanggil sang gubernur beserta putranya, lalu memerintahkan korban untuk membalas pukulan tersebut di depan umum.

Umar r.a. kemudian melontarkan teguran keras kepada Amr bin Al-Ash yang sangat mahsyur, “Sejak kapan kalian memperbudak manusia, padahal ibunda mereka melahirkan mereka dalam keadaan merdeka?!” Rangkaian heroisme autentik para tokoh Islam dalam mengubah arah sejarah dan mengangkat martabat bangsanya tentu terlalu luas untuk dirangkum oleh lembaran buku.

Namun, roda sejarah kemudian berputar membawa rentetan peristiwa yang perlahan mengikis kekuatan moral dan karakter maskulinitas umat. Generasi belakangan mulai menggadaikan kehormatan demi memburu materi, sangat kontras dengan generasi pendahulu mereka yang rela mengorbankan materi demi mempertahankan kehormatan.

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU