Gaza masih terselimuti awan hitam. Warga Gaza masih terlunta, hidup tanpa kepastian. Serangan Zionis Yahudi masih terus terjadi, membuat warga Gaza tidak bisa menghirup udara dengan tenang.
Dilansir dari antaranews.com (15/9/2025), Zionis Yahudi kembali melancarkan serangan udara pada 12 September 2025. Sebanyak 300.000 warga Gaza mengungsi dari Gaza City. Sebelumnya, sekitar 1 juta orang tinggal di Gaza City untuk berlindung dari serangan. Kini tempat itu pun menjadi target serangan Zionis Yahudi.
Zionis Yahudi menyatakan tujuan serangan ke Gaza City adalah untuk menguasai dan mengambil alihnya, serta menumbangkan Hamas yang masih menyandera setidaknya 50 orang Israel. Dari serangan tersebut setidaknya 68 warga meninggal dan 346 orang terluka. Sementara itu, sepanjang serangan Zionis Yahudi dari tahun 2023 lalu, 64.000 warga Gaza tewas, puluhan ribu lainnya terluka, fasilitas-fasilitas umum hancur lebur, pasokan makanan, minuman, obat-obatan diblokade, menyebabkan kelaparan sampai pada tingkat kritis.
Dalam kondisi seperti itu, Zionis Yahudi masih belum puas. Negara-negara yang membantunya pun masih terus setia memasok persenjataan dan logistik perang. Sementara para pemimpin muslim masih dengan gaya klasiknya dalam membela nasib warga Palestina.
Harusnya Mereka Malu
Aksi genosida di Gaza, Palestina, telah terjadi bertahun-tahun lamanya. Hal ini memicu gelombang seruan masyarakat dunia. Tanpa pandang bulu, masyarakat dunia memperlihatkan pembelaannya pada warga Gaza, Palestina. Mereka tumpah ruah ke jalan, memadati seluruh jalan karena geram dengan tindakan brutal Zionis Yahudi. Mereka serukan boikot produk-produk yang dinilai berafiliasi dengan Israel dan sekutunya.
Tidak cukup dengan itu, delegasi berbagai negara di dunia berjuang menerobos blokade Israel melalui jalur laut. Global Sumud Flotilla (GSF), sebuah misi kemanusiaan terbesar yang diikuti lebih dari 1000 peserta dari 47 negara dengan 80 kapal, memperlihatkan rasa kemanusiaannya yang tinggi. Meskipun kapal GSF sempat diserang drone di pelabuhan Tunisia pada 9 dan 10 September lalu, mereka terus melaju dengan misi yang sama (cnnindonesia.com, 14/9/2025).
Di sisi lain, pemimpin muslim yang membawahi kekuatan militer tangguh seharusnya merasa malu. Rakyat biasa dengan rasa kemanusiaan yang tinggi mampu melawan rasa takut untuk berjuang mengakhiri derita warga Gaza. Sementara mereka dengan kekuatan yang jauh lebih banyak tidak bisa menghindarkan rasa takutnya dari kekuatan politik Israel dan sekutunya.
Bahkan negara-negara Arab masih menjalankan hubungan diplomatik dengan Israel. Sebegitu takutkah mereka pada Israel? Ataukah mereka terlalu takut kekuasaannya hancur karena langkahnya tidak sejalan dengan Zionis? Satu hal yang pasti dari tindakan setengah hati mereka, mereka tidak malu pada masyarakat dunia yang membela Gaza, Palestina dengan tulus. Tanpa menghitung untung rugi, bahkan nyawa mereka sendiri.
Kaum Muslim Wajib Bersatu
Kaum muslim di seluruh dunia adalah kaum mayoritas. Jumlahnya kini mencapai sekitar 2,04 miliar. Jumlah yang sangat besar dibanding dengan jumlah Zionis Yahudi.
Sayangnya jumlah kaum muslim yang banyak tersebut bak buih di lautan. Mereka banyak namun tak punya daya upaya. Diterpa angin sepoi-sepoi saja mereka lenyap tak bersisa. Begitulah ibaratnya kaum muslim hari ini. Persis dengan sabda Rasulullah saw., berabad silam.
Sepatutnya kaum muslim membuka mata, kita jengah dan hampir putus asa terhadap kondisi warga Gaza. Sekuat tenaga masyarakat dunia membantu dengan turun ke jalan, menyuarakan untuk membela warga Gaza. Termasuk menyuarakan boikot dan mengirimkan bantuan. Akan tetapi, agresi Zionis Yahudi terus berlanjut hingga saat ini dan korban terus berjatuhan.
Artinya, sebanyak apapun bantuan yang diberikan ke Gaza, jika serangannya tidak dihentikan, niscaya Gaza akan terus sengsara dan terjajah. Inilah akar masalah yang semestinya dihentikan para penguasa muslim yang mempunyai kekuatan militer. Mereka seharusnya tidak mengambil langkah yang sama dengan masyarakat, yakni sama-sama mengirimkan bantuan. Karena kekuasaan masyarakat dan pemimpin negara jelas tidak sama.







