Sebagaimana firman Allah dalam QS. Ar-Rum ayat 30, “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah.” Ayat ini menegaskan bahwa Islam adalah agama yang sesuai dengan fitrah manusia. Ia tidak bertentangan dengan akal sehat, bahkan justru memuaskan akal. Ia tidak mengekang jiwa, melainkan menenangkan hati.
Sebagai contohnya terkait qodho dan qadar. Keduanya adalah ketetapan Allah, di luar kendali manusia. Sebagai pencipta Allah berhak memutuskan segala hal yang terjadi, manusia hanya memiliki kewajiban untuk berbuat kebaikan dan berdoa. Manusia yang beriman akan memiliki hati yang tenang. Mereka percaya segala baik dan buruk yang datang kepadanya berasal dari Allah. Dengan demikian, ia akan terhindar dari rasa kecewa, marah, atau bahkan putus asa.
Ketika manusia hidup dengan aturan Islam, ia memiliki kejelasan arah hidup. Ia tahu untuk apa ia hidup dan bagaimana ia harus bersikap. Sebaliknya, ketika manusia menjauh dari nilai-nilai Islam, meskipun ia mungkin memiliki segalanya secara materi, sering kali ia tetap merasa hampa. Ini karena fitrahnya tidak terpenuhi.
Contoh berdasarkan realita hari ini, banyak keluarga kaya namun tidak memiliki keharmonisan dalam rumah tangga. Tidak sedikit juga setiap bulan diberitakan kasus bunuh diri karena tingkat stres yang ditanggungnya terlalu berat.
Syawal adalah momen refleksi, apakah kita ingin kembali pada fitrah yang sejati atau kembali pada kebiasaan lama yang justru menjauhkan kita dari Allah?
Kembali kepada fitrah bukan berarti menjadi sempurna, tetapi menyadari posisi kita sebagai hamba. Hamba yang lemah, yang butuh petunjuk, dan yang harus tunduk kepada hukum Allah. Hal ini juga berarti menjadikan Al-Qur’an sebagai panduan hidup, bukan hanya bacaan sesaat. Menjadikannya sebagai standar dalam berpikir, bersikap, dan mengambil keputusan.
Pada akhirnya, perjalanan hidup manusia akan bermuara pada satu titik, yaitu kembali kepada Allah. Maka, sebaik-baik perjalanan adalah perjalanan yang sesuai dengan fitrah. Mari, jadikan Syawal bukan sekadar perayaan, tetapi awal dari komitmen baru, hidup dalam naungan Al-Qur’an, dan berjalan di atas hukum Allah. Jika Ramadan adalah proses penyucian, maka Syawal adalah titik awal pembuktian. Dan sejatinya, kemenangan bukanlah ketika berhasil berbuat baik di saat Ramadan, tetapi ketika mampu istikamah setelahnya.[]
Dias Paramita, Mahasiswi Ilmu Gizi UB sekaligus pegiat literasi di Kota Malang.







