Syahrul Qur’an, Ramadan hampir usai. Selama sebulan, umat Islam berlomba-lomba mendekatkan diri kepada Allah, bersedekah, sholat tarawih, dan lantunan ayat suci menggema di masjid-masjid, rumah-rumah, bahkan dalam kesunyian qiyamul lail.
Semua muslim berdoa untuk mendapatkan banyak kebaikan. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 185, “Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang benar dan yang batil).”
Namun, setelah Ramadan berlalu, ke mana kita akan membawa Al-Qur’an? Ke mana perginya jiwa yang taat itu? Apakah mendekatkan diri kepada pencipta hanya saat Ramadan saja?
Jangan menjadi bagian dari masyarakat sekular yang hanya akan taat saat momen tertentu. Umat Islam harusnya taat secara kaffah (menyeluruh) sepanjang waktu hidupnya. Syawal datang sebagai penanda berakhirnya Ramadan, tetapi sejatinya ia bukan akhir dari perjalanan spiritual, melainkan awal dari fase baru, yaitu kembali pada fitrah. Hari kemenangan yang dirayakan bukan sekadar tentang pakaian baru atau hidangan istimewa, melainkan tentang jiwa yang kembali bersih, sebagaimana awal penciptaannya.
Makna fitrah sering dipahami sebagai kesucian. Namun, lebih dari itu, fitrah adalah kondisi asli manusia sebagai hamba Allah. Manusia diciptakan dengan segala keterbatasan, kelemahan, serta kebutuhan untuk bergantung kepada Sang Pencipta dan makhluk yang lain. Hal tersebut tercantum dalam QS. An-Nisa ayat 28, “Dan manusia diciptakan dalam keadaan lemah.”
Kelemahan manusia bukanlah aib, melainkan pengingat bahwa manusia bukanlah makhluk yang mandiri secara mutlak. Ia membutuhkan petunjuk, aturan, dan bimbingan dari Allah. Karena itulah, fitrah manusia sejatinya adalah tunduk dan patuh kepada hukum Allah, bukan kepada hawa nafsu. Dengan semua keterbatasan, manusia jelas tidak bisa membuat aturan sendiri, apalagi menjalankan sistem kehidupan dari manusia.
Ketika manusia hidup sesuai dengan aturan Allah, ia sedang berjalan searah dengan fitrahnya. Sebaliknya, ketika ia ingkar, maka kegelisahan, kekosongan, dan ketidaktenangan akan muncul dalam hidupnya. Di sinilah pentingnya Al-Qur’an. Ia bukan hanya kitab yang dibaca saat Ramadan, tetapi pedoman hidup yang harus diamalkan setiap hari. Membaca Al-Qur’an memang bernilai pahala, tetapi mengamalkannya adalah tujuan setiap umat muslim yang beriman.
Allah menegaskan dalam QS. Shad ayat 29, “Ini adalah Kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka mentadabburi ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran.”
Ayat ini menegaskan bahwa Al-Qur’an tidak hanya untuk dilantunkan, tetapi juga untuk direnungi dan dijadikan pedoman kehidupan. Sayangnya, mayoritas manusia hanya menjadikan Al-Qur’an sebagai teman di bulan Ramadan. Setelah itu, ia kembali disimpan rapi dalam rak tanpa ada interaksi. Padahal, kehidupan setelah Ramadan justru menjadi ujian sebenarnya, apakah nilai-nilai yang telah dipelajari akan terus hidup atau justru memudar?
Syawal menjadi momentum penting untuk menjawab itu. Kembali kepada fitrah berarti kembali kepada hakikat penciptaan manusia, yaitu dari Allah, untuk Allah, dan akan kembali kepada Allah. Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 156, “Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya lah kami kembali.” Kesadaran ini membawa manusia pada pemahaman bahwa tujuan hidup adalah untuk beribadah dan taat kepada Allah dalam seluruh aspek kehidupan.
Fakta menariknya, hanya sistem kehidupan yang bersumber dari Islam yang benar-benar selaras dengan fitrah manusia. Hal tersebut dikarenakan Islam datang dari Sang Pencipta. Allah yang menciptakan manusia dan makhluk lainnya, tentu paling mengetahui apa yang terbaik hamba-hambaNya. Aturan Islam tidak pernah berubah dari awal penciptaan hingga akhir dunia nanti, bukan karena tidak mau berkembang sesuai zaman, tapi karena aturan Islam selalu sesuai di sepanjang zaman.
Sebagai contoh, kebutuhan dasar manusia adalah terpenuhinya kebutuhan jasmani (makanan dan pakaian). Islam mengatur terkait kedua hal tersebut, apa yang harus dimakan dan bagaimana etika berpakaian agar manusia selalu sehat dan terjaga dari kejahatan.







