Kepala Ilmuwan OpenAI: Tidak Ada yang Siap Hadapi Konsekuensi AI

Namun, Calvin mengklaim bahwa OpenAI tidak mau transparan. Menurutnya, hal itu berarti peringatan berisiko diabaikan dan hanya menjadi sensasi yang didorong oleh kepentingan pribadi.

“Jika Jakub dan orang lain di OpenAI ingin orang-orang yang relevan di industri AI bertindak bersama mereka untuk membuat segalanya berjalan dengan baik, salah satu hal terpenting yang dapat mereka lakukan adalah berbagi lebih banyak informasi tentang apa yang dilihat mereka dan yang membuat mereka menyerukan kehati-hatian,” tulis Calvin di platform X.

Pengamanan AI yang Diterapkan

Regulasi global saat ini kesulitan untuk mengimbangi laju perkembangan AI.

Undang-Undang AI Uni Eropa mulai berlaku pada tanggal 2 Agustus. Regulasi ini mengharuskan raksasa AI seperti OpenAI untuk membuktikan bahwa model terkuat mereka tidak dapat secara otomatis melancarkan serangan siber atau menghindari kendali manusia sebelum diizinkan untuk dijual di Eropa.

Namun, karena yurisdiksi hukum tersebut terbatas pada Eropa, hukum itu tidak dapat menghentikan AI yang dikembangkan di tempat lain lalu mengancam benua tersebut.

Dalam unggahan blognya, Pachocki menyerukan ambang batas keselamatan minimum yang diwajibkan secara hukum atau internasional yang dapat ditegakkan oleh jaringan auditor pihak ketiga atau lembaga pemerintah.

Menurutnya, laboratorium AI perlu memenuhi ambang batas ini sebelum diizinkan melanjutkan pengembangan atau menerapkan model-model canggih.

Ia menambahkan bahwa ia berharap perlambatan sukarela (voluntary slowdown)—yaitu jeda yang diberlakukan sendiri oleh perusahaan dalam pengembangan AI—akan menjadi hal biasa sampai batasan untuk khalayak umum ditetapkan.

Pada bulan Agustus, pihak OpenAI menyatakan bahwa mereka telah memperlambat pelatihan beberapa model AI tercanggihnya untuk meningkatkan keamanan. []

Sumber: BBC News Indonesia

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU