Riyadh (Ngabarin.net) — Perkembangan kecerdasan buatan (AI) serta dampaknya terhadap karya manusia, riset ilmiah, dunia medis, sastra, dan perlindungan hak cipta menjadi fokus utama dalam seminar internasional yang diselenggarakan oleh King Faisal Prize bersama King Faisal Center for Research and Islamic Studies (KFCRIS) di Riyadh.
Seminar bertajuk “Kedokteran dan Sastra di antara Kreativitas Manusia dan Kecerdasan Buatan” tersebut diselenggarakan sebagai bagian dari agenda kebudayaan tahunan KFCRIS. Forum ini mempertemukan kalangan akademisi dan pakar lintas bidang untuk mengkaji pergeseran paradigma produksi pengetahuan akibat kehadiran teknologi generatif.
Kegiatan yang berlangsung di Riyadh pada Kamis (27/8) ini dihadiri langsung oleh Pangeran Turki Al-Faisal. Beliau hadir dalam kapasitasnya sebagai Ketua Dewan Direksi KFCRIS sekaligus Wakil Ketua Dewan King Faisal Prize.
Rangkaian diskusi menghadirkan Dr. Shorouq Al-Sinan selaku Direktur Pusat Kecerdasan Buatan Princess Nourah bint Abdulrahman University, Prof. Dr. Abdulrahman Al-Muhsini selaku pakar sastra King Khalid University, serta Dr. Al-Hanouf Al-Dabbasi dari Saudi Authority for Intellectual Property.
Jalannya diskusi dipandu oleh Prof. Dr. Omar Al-Saif, guru besar bahasa Arab Alfaisal University dan King Saud University, yang juga mengemban amanat sebagai Sekretaris Jenderal Ghazi Al-Gosaibi Award.
Para panelis mengulas secara mendalam dinamika kreativitas kontemporer di tengah pesatnya kemampuan AI dalam memproduksi naskah teks dan karya intelektual.
Tingginya kapabilitas teknologi ini memicu perdebatan mengenai batas orisinalitas karya murni manusia dibandingkan dengan karya berbasis bantuan AI.
Forum ini juga menyoroti potensi AI generatif dalam menirukan pola pikir serta kedalaman intuisi manusia di bidang penulisan ilmiah maupun sastra. Para pembicara bersepakat tentang pentingnya menjaga nilai-nilai kemanusiaan agar orisinalitas pemikiran tetap terjaga.
Isu perlindungan hak cipta dan kekayaan intelektual menjadi pembahasan paling krusial selama seminar berlangsung. Kehadiran AI generatif dinilai menghadirkan tantangan regulasi baru, terutama dalam menentukan batas kepemilikan atas karya yang diproduksi oleh algoritma mesin.
Selain sektor akademis, seminar ini turut membahas korelasi etika penggunaan AI dalam ranah riset medis dan sains terapan.
Wacana ini dinilai sangat relevan dengan langkah Pemerintah Indonesia yang saat ini sedang merumuskan regulasi perlindungan hak cipta terkait AI. Kebijakan tersebut menempatkan AI secara tegas sebagai alat bantu dan bukan sebagai subjek hukum pemegang hak cipta.
Langkah formulasi regulasi di Indonesia diharapkan mampu menghadirkan titik temu yang seimbang antara kemajuan teknologi AI dan perlindungan hak-hak pekerja seni, musisi, sineas, serta kreator digital.
Penyelenggaraan seminar di Riyadh ini menjadi komitmen berlanjut dari KFCRIS dan King Faisal Prize dalam memperkaya diskusi ilmiah global. Forum ini secara konsisten menjembatani dialog antara ilmu humaniora dan teknologi modern demi menatap masa depan peradaban.[]
Sumber: KFCRIS/SPA-OANA







