Cara pandang seperti ini menjadi fondasi utama dalam membangun ketahanan spiritual.
Kapitalisme dan Budaya “Sukses Sendiri”
Persoalan berikutnya adalah bagaimana sistem ekonomi dan budaya modern membentuk ukuran keberhasilan. Dalam budaya yang sangat kompetitif, seseorang didorong untuk menjadi yang paling unggul: mendapatkan nilai terbaik, masuk universitas favorit, memperoleh pekerjaan bergengsi, hingga memiliki penghasilan tinggi. Masalah muncul ketika nilai kemanusiaan seseorang diukur terutama dari pencapaian materi dan individualistis.
Akibatnya, seseorang merasa gagal ketika tidak mampu mencapai standar yang ditetapkan masyarakat. Media sosial memperparah persoalan tersebut dengan menampilkan keberhasilan orang lain setiap hari, sehingga memicu perbandingan tanpa akhir. Dari sinilah budaya individualisme tumbuh subur, di mana ikatan sosial melemah dan seseorang bisa memiliki ribuan pengikut di media sosial namun tidak mempunyai satu pun orang yang tepercaya untuk berbagi penderitaan.
Kasus FS memberikan gambaran paradoks tersebut. Fakta bahwa seseorang menunjukkan kepedulian sosial melalui donasi tidak otomatis menandakan bahwa pergulatan batinnya diketahui oleh lingkungan sekitar. Hal ini membuktikan bahwa materi dan aktivitas sosial saja tidak otomatis menyelesaikan krisis kesepian manusia.
Islam Tidak Hanya Membentuk Individu, tetapi Juga Ikatan Sosial
Islam menawarkan pendekatan komprehensif yang tidak berhenti pada pembentukan individu:
Pertama, Islam mengokohkan akidah. Seorang Muslim diajarkan bahwa hidup memiliki tujuan, berasal dari Allah Swt., dan akan kembali kepada-Nya. Akidah ini membentuk cara pandang yang kokoh saat menghadapi penderitaan.
Kedua, Islam membangun keluarga sebagai institusi penting. Keluarga bukan sekadar tempat tinggal bersama, melainkan ruang pendidikan, kasih sayang, perlindungan, dan pembentukan kepribadian.
Ketiga, Islam membangun masyarakat berdasarkan ukhuwah dan kepedulian. Rasulullah saw. bersabda:
«الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا»
“Seorang mukmin terhadap mukmin lainnya seperti sebuah bangunan; sebagian menguatkan sebagian yang lain.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Pesannya sangat jelas: seorang Muslim tidak dibentuk untuk hidup terisolasi. Ketika seseorang mengalami kesulitan, keluarga dan masyarakat memiliki peran untuk mendampingi dan membantu. Pertanyaan pentingnya adalah: “Apakah kita sudah menciptakan lingkungan yang membuat seseorang tidak harus menghadapi masalahnya sendirian?”
Bagaimana dengan Negara?
Negara memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan masyarakat melalui kebijakan pendidikan, ekonomi, kesehatan, dan perlindungan sosial. Jika pendidikan hanya berorientasi pada pencapaian akademik dan persaingan pasar kerja, sementara ekonomi menghasilkan tekanan dan ketimpangan, maka negara perlu mengevaluasi sistem yang diterapkannya.
Dalam perspektif Islam, pendidikan bertujuan membentuk manusia yang bermoral, berilmu, dan memiliki tanggung jawab sosial. Begitu pula ekonomi, di mana negara bertanggung jawab menjamin kebutuhan dasar masyarakat dan menciptakan kehidupan sosial yang layak. Inilah gambaran dalam kerangka pemikiran politik Islam, di mana penerapan syariat secara menyeluruh dipahami sebagai sarana mewujudkan kehidupan yang berlandaskan akidah.







