Media sosial dihebohkan dengan pengeroyokan seorang guru SMK di Jambi. Sang guru dikabarkan sering menghina hingga menyulut emosi para siswa didiknya. Sungguh hal ini merupakan berita duka dari dunia pendidikan kita hari ini.
Relasi antara murid-guru yang seharusnya dibangun dengan rasa hormat dan rasa sayang justru yang terjadi adalah sebaliknya, penghinaan dan kekerasan. Lebih miris lagi kasus seperti ini tidak terjadi satu kali dua kali, tapi berulang. Perlu ada evaluasi besar dari sistem pendidikan hari ini, dimana jika kita melihat kurikulum yang diciptakan lebih mengedepankan hasil anak didik pintar tapi kurang memperhatikan adab.
Kita harus bercermin dari sistem pendidikan Islam, ia mampu melahirkan generasi berilmu sekaligus beradab. Bahkan diutusnya Rasulullah Shalallahu alaihi wassallam untuk menyempurnakan akhlak, sebagaimana yang tertuang dalam hadist berikut:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاقِ
“Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan kesalehan akhlak.” (HR. Al-Baihaqi).
Islam menempatkan adab sebelum ilmu. Para peserta didik digembleng terlebih dahulu dengan pembelajaran adab. Bahkan jika kita membaca kisah para ulama terlebih dahulu, waktu untuk belajar tentang adab bisa lebih lama daripada belajar tentang ilmu itu sendiri.
Para murid dididik untuk memuliakan guru (ta’dzim), sementara para guru diwajibkan untuk mendidik dengan penuh kasih sayang. Guru tidak hanya menjalankan peran pengajaran, tapi yang lebih penting dari itu peran untuk mendidik para muridnya.
Negara yang menerapkan Islam akan sangat memperhatikan kurikulum pendidikan, dimana semua ilmu akan dibangun berlandaskan akidah Islam. Sehingga setiap peserta didik yang dihasilkan adalah orang orang yang semakin bertambah ilmunya, semakin bertambah pula ketaqwaan nya kepada Allah Subhanahu Wata’ala.
Setiap mata pelajaran akan diarahkan untuk pembentukan kepribadian Islam, bukan semata dibentuk sesuai keinginan pasar. Dengan sistem Islam, insyaallah pendidikan akan melahirkan generasi yang beradab dan berilmu.[]
Elis Irma Ratnasari, Pemerhati Generasi







