Oleh: Ahmad Amin, Sastrawan Mesir.
Wahai anakku, saat ini engkau sedang menempuh studi di Inggris setelah sebelumnya menyelesaikan pendidikan di Mesir. Ketahuilah bahwa orang-orang sebelummu yang belajar di Eropa memiliki latar belakang dan karakter yang sangat beragam, sehingga mereka dapat dikelompokkan ke dalam beberapa golongan.
Golongan pertama adalah mereka yang merasa kebebasannya di Mesir terkekang, lalu menemukan kebebasan itu begitu melimpah di Eropa. Mereka merasa telah terbebas dari pengawasan orang tua serta aturan sekolah.
Kondisi tersebut membuat mereka merasa menjadi tuan bagi dirinya sendiri tanpa ada yang mengawasi maupun meminta pertanggungjawaban. Ditambah lagi, mereka melihat begitu banyak sarana hiburan di Eropa hingga akhirnya terjerumus dan larut di dalamnya.
Mereka pun mempertaruhkan seluruh harta, pikiran, dan waktunya untuk kesenangan tersebut. Akibatnya, siang hari mereka habiskan untuk tidur, sementara malam hari digunakan untuk berfoya-foya.
Demi kesenangan itu, mereka rela mendapatkan uang dari orang tuanya dengan segala cara. Mereka kerap beralasan membutuhkan biaya untuk membeli banyak buku, pakaian baru, atau biaya berobat ke dokter.
Namun, setiap uang yang sampai ke tangan justru dihabiskan untuk memenuhi hawa nafsu hingga akhirnya perjalanan mereka berakhir dengan tragis. Mereka pun pulang ke tanah air tanpa membawa ilmu maupun akhlak yang terpuji.
Jiwa mereka telah rusak, hati nuraninya mati, serta ilmu dan moralnya hilang, sehingga mereka tidak lagi layak untuk mengemban suatu pekerjaan.
Sementara itu, golongan kedua adalah para pelajar di Eropa yang memiliki karakter bertolak belakang dengan golongan pertama, meskipun jumlah mereka lebih sedikit. Mereka ini fokus pada pelajaran dengan penuh kesungguhan.
Mereka tidak mengenal tempat lain selain kamar, tumpukan buku, dan kampus mereka. Rutinitas harian mereka hanya berkisar pada jalur dari rumah menuju universitas sampai akhirnya berhasil meraih gelar akademik.
Setelah itu, mereka pun pulang ke tanah air dengan membawa ijazah. Pikiran mereka memang berkembang dan ilmu mereka bertambah, namun hati mereka tidak terbuka terhadap lingkungan sekitar.
Sama seperti golongan pertama, kelompok kedua ini juga tidak membuatku kagum.
Selanjutnya, ada golongan ketiga yang sangat aku kagumi dan aku berharap engkau dapat mencontoh karakter mereka. Mereka adalah kelompok yang benar-benar memahami esensi tugas dan misinya sebagai pelajar.







