Dan pada puncaknya keberhasilan “Sang Imam Jamaah Korupsi” menjadikan Prabowo Subianto Presiden melalui pesta demokrasi Pilpres 2024 yang sangat curang, licik dan culas hasil rekayasa politik cawe-cawe “Sang Imam” yang kemudian keceplosan diakui oleh Prabowo sendiri bahwa dirinya menjadi atas bantuannya.
Bahkan, dalam hati pikiran dan jiwanya sekarang. Tidak saja Prabowo merasa mempunyai hutang budi terhadap Jokowi. Melainkan, Jokowi baginya, adalah “harga mati” untuk selayaknya dibelanya, sekalipun berkorban nyawa. Jokowi -Prabowo itu satu jiwa dan pikiran yang homogen, takkan terpisahkan.
Lebih jauh lagi, relasi hubungan Prabowo-Jokowi itu sudah menjadi relasi “simbiosis mutualisme” dalam artikulasi konteks:
Jokowi akan semakin mendapatkan penguatan perlindungan hukum dari Prabowo sebagai Presiden. Sementara, berkesenyawaan keuntungan-keuntungan sesungguhnya disadari sendiri oleh Prabowo telah didapatinya semenjak dirinya menjabat Kementerian Pertahanan:
Jokowi telah menggantikan ongkos kerugian atas kekalahan hattrick-nya di Pilpres menguras gentong duitnya bersama Hasyim Joyohadikusumo adik kandungnya melalui mega proyek food estate dan pembelian peralatan alutista bernilai ratusan trilyun yang hingga kini pun tak tersentuh tak tahu hutan rimbanya.
Pun termasuk koaliasi partai “oligarki” KIM Plus. “Partai Plus” yang terdiri NASDEM, PKB dan PKS mengalami kerugian materi karena sebagai “ anak nakal” memberontak mengusung Anies telah “impas” dan “lunas” bahkan akan menjadi “laba” bagi para elit-elit politik kemudian.
Jadi, Prabowo dan Kim Plus telah berkenan dan berjasa bagi Jokowi melicinkan jalan ke pencapaian investasi kekuasaannya terlaksananya politik dinasti bagi keluarga beserta para kroni-kroninya yang dahulu sudah menciptakan wadah melalui terbentuknya “Kabinet Penguasa-Pengusaha” yang secara diam-diam menjadi cikal Jokowi membangun kerajaan bisnisnya bareng bersama oligarki di bawah panji-panji Toba Sejahtera Group tempat di mana LBP dan Gibran menjadi punggawa utamanya.
Lantas, pertanyaannya seolah tak kentara di manakah Jokowi menyimpan dan menyembunyikan hasil korupsinya? Sudah dipersiapkan dengan rapih bekerjasama dengan BIN dan Interpol Polri yang keduanya juga lembaga sangat korup—malah terkesan sangat mengawalnya. Dengan cara apalagi jika bukan Jokowi mendirikan perusahaan-perusahaan cangkang yang memproteksi kekayaan hasil korupsi Jokowi di negara-negara yang memang menyediakan fasilitas dengan tentu saja membayar mereka sangat mahal, seperti: Swiss, Guam, Hawaii dsb.
Dan “Sang Imam” ini ternyata semakin sempurna dan paripurna untuk menjejakkan kuku-kuku tajam kaki dan tangannya saat mana terbentuknya lembaga investasi raksasa yang sesungguhnya tak lebih jauh dari aliansi “Toba Sejahtera” milik LBP beserta kepemilikan “saham kenduri” Jokowi.
Sang pengurus utamanya diwakili Pandu Sjahrir alias keponakan LBP sendiri. Jokowi selaku Dewas, SBY Dehat dan Prabowo Debina. Yaitu, Danantara.
Dan itu berarti pasangan “matahari kembar” itu secara kentara semakin menunjukkan arogansi kekuasaannya. Sementara, “Sang Imam” terus akan semakin merajalela mengkooptasi dan mengokupasi hasil-hasil jarahan korupsinya untuk memperkaya diri dinasti, para kroni, dan relasi oligarkinya.
Dikarenakan Danantara untuk merelease 15 megaproyek infrastruktur yang tak bersentuhan langsung dengan kepentingan kesejahteraan rakyat secara langsung.
Terlebih, arogansi Prabowo itu semakin nyata manakal beberapa hari lalu justru Prabowo mengundang sepuluh tokoh oligarki konglomerasi di Istana Presiden, termasuk Aguan yang justru tengah berperkara hukum dengan rakyat Banten.
Yang oleh Prabowo berarti disepelekan, dihiraukan dan diabaikan tindakan hukumnya seolah Aguan tak bersalah.







