Denpasar (Ngabarin) – Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon menilai genosida di Palestina tidak hanya menjadi bencana kemanusiaan, tetapi juga merupakan penghapusan sistematis budaya dan peradaban.
Pernyataan Menbud itu disampaikan saat pertemuan bilateral dengan Menteri Kebudayaan Palestina di sela-sela forum internasional Culture, Heritage, Art, Narrative, Diplomacy, and Innovation (CHANDI) 2025 di Bali.
“Yang tengah berlangsung bukan sekadar genosida terhadap sebuah bangsa, tetapi juga genosida terhadap kebudayaan dan peradaban,” kata Menbud Fadli Zon dalam keterangannya di Denpasar, Kamis (04/09/2025).
“Hancurnya infrastruktur, situs bersejarah, ruang budaya, hingga pusat komunitas di Palestina merupakan bagian dari upaya sistematis untuk melemahkan identitas bangsa tersebut,”sambungnya.
Atas tindakan itu, lanjutnya, Indonesia menegaskan sikap berdiri kokoh membantu rakyat Palestina dalam perjuangannya menjaga kedaulatan negara.
“Indonesia siap memberikan kontribusi aktif, baik secara politik, diplomatik, maupun melalui upaya kemanusiaan, dalam penyelesaian krisis di Gaza dan terwujudnya Palestina yang merdeka dan berdaulat,” ujar Menbud Fadli Zon.
Dalam upaya ikut menjaga kebudayaan Palestina, Kementerian Kebudayaan kedua negara menyepakati langkah penting dengan menandatangani Letter of Intent (LoI) on Culture.
Wakil Ketua DPR Periode 2014-2019 ini mengatakan, diplomasi kebudayaan adalah cara efektif untuk memperkuat rasa saling pengertian, solidaritas, dan penghormatan antar-bangsa. Kerja sama kebudayaan menjadi langkah strategis untuk menjaga memori, kontribusi, dan tempat Palestina dalam sejarah umat manusia.
Indonesia-Palestina berkomitmen untuk mengembangkan proyek budaya bersama, bertukar pengetahuan mengenai pelestarian warisan budaya, serta menyelenggarakan pameran, lokakarya, dan pelatihan.
Adapun sejumlah kerja sama budaya konkret antara lain penyelenggaraan forum internasional tentang genosida budaya di Gaza, promosi produk budaya Palestina di Indonesia, seperti kerajinan sulam, keramik, dan karya seni lainnya sebagai bentuk solidaritas serta pemberdayaan ekonomi masyarakat Palestina.
Selanjutnya program pertukaran budaya, termasuk residensi seniman Palestina di Indonesia, pameran seni, pemutaran film, pekan budaya Palestina di berbagai kota di Indonesia; serta penerjemahan dan publikasi karya sastra Palestina, khususnya kumpulan tulisan para penulis dari Gaza, termasuk mereka yang telah gugur dalam konflik, agar suara dan narasi Palestina dapat dikenal dunia dalam berbagai bahasa.
Waketum Partai Gerindra itu menegaskan, Indonesia siap merealisasikan kerja sama budaya ini. “Kita akan bahas teknis pelaksanaannya bersama Duta Besar Palestina, ini bukan hanya soal kebudayaan, tapi tentang solidaritas, tentang menyuarakan kemanusiaan melalui bahasa budaya,” katanya.







