Di sebuah sore yang malas, di antara tumpukan email pekerjaan dan notifikasi grup WhatsApp kantor yang tak kunjung reda, pesan dari seorang kawan lama muncul di layar.
Namanya Arif. Dulu kami sering nongkrong di warung kopi kampus, berdiskusi tentang hidup, cinta, dan cita-cita yang kala itu masih terasa megah di kepala. Setelah bertahun-tahun hilang kabar, tiba-tiba ia muncul kembali di dunia maya—dengan wajah yang tetap teduh, meski kini ditandai keriput halus di ujung mata.
Percakapan kami bermula dari hal remeh: kabar keluarga, kerjaan, cuaca. Tapi tak lama kemudian, Arif meluncurkan kalimat yang membuat saya berhenti mengetik: “Kalau dipikir-pikir, hidup ini kan anugerah. Tapi anugerah yang paling sering kita buang sia-sia itu ya… waktu.”
Saya diam. Kalimat itu sederhana, tapi seperti mengetuk ruang yang lama tertutup di kepala. Saya yang selama ini merasa cukup bijak mengatur hidup—menulis daftar to-do harian, menetapkan target bulanan, menghitung penghasilan, dan menakar ibadah—tiba-tiba merasa seperti murid yang gagal memahami pelajaran paling dasar: menikmati waktu itu sendiri.
Arif bukan ustaz, bukan motivator, bukan pula pejabat yang punya panggung untuk berceramah. Ia hanya seorang pengusaha katering rumahan di pinggiran Yogyakarta. Rumahnya sederhana, dapurnya selalu beraroma bawang goreng, dan di halaman belakangnya ada taman kecil tempat anak-anaknya bermain sepulang sekolah. Tapi dari cara ia bercerita, tampak bahwa kebahagiaan tidak butuh panggung besar—cukup ruang kecil yang dijaga dengan cinta.
“Dulu aku juga seperti kamu,” katanya sambil tertawa lewat video call. “Bangun pagi buru-buru, kerja sampai malam, weekend pun sibuk cari proyek tambahan. Tapi lama-lama aku sadar, aku nggak lagi menikmati apa pun. Waktu jalan, tapi aku nggak ikut jalan di dalamnya.”
Saya mendengarkan, sambil berpikir: betapa banyak dari kita yang berlari dalam lintasan hidup dengan keyakinan sedang menuju sukses, tapi lupa menikmati pemandangan di sepanjang jalan. Kita menghitung jam kerja, tapi lupa menghitung momen bahagia. Kita mengejar karier, tapi melewatkan senyum anak yang menunggu di depan pintu. Kita rajin berdoa minta berkah, tapi jarang menikmati berkah yang sudah ada di depan mata.
Beberapa hari setelah percakapan itu, saya mencoba melakukan hal yang Arif sebut sebagai “menikmati waktu.” Saya mematikan notifikasi ponsel selama satu jam, duduk di teras rumah, menyesap kopi, dan hanya memperhatikan daun-daun yang bergoyang diterpa angin sore. Tak ada hal produktif yang saya lakukan—tidak membaca, tidak mencatat ide, tidak berpikir keras. Hanya duduk dan merasa cukup.
Rasanya aneh. Seolah saya sedang melanggar hukum produktivitas modern yang memuja kesibukan sebagai tanda keberhasilan. Tapi di saat yang sama, ada ketenangan yang lama hilang. Saya teringat kata-kata Arif, “Orang sekarang sibuk mencari cara menikmati hidup, padahal yang perlu dinikmati itu justru waktu hidupnya.”
Kita sering mengira waktu adalah sesuatu yang harus “diisi”—dengan pekerjaan, target, doa, ibadah, atau perjalanan. Padahal, waktu itu sendiri adalah ruang untuk hadir. Untuk mendengarkan, mencintai, memaafkan, atau sekadar bernapas tanpa beban angka dan rencana.
Arif bercerita bahwa titik balik hidupnya datang ketika ibunya jatuh sakit. “Aku sibuk kerja waktu itu,” ujarnya pelan. “Kupikir kalau aku bisa dapat proyek besar, ibu bakal bangga. Tapi begitu aku pulang, beliau sudah nggak bisa bicara lagi. Baru sadar, semua uang di rekening nggak bisa membeli satu jam tambahan untuk bicara dengannya.”
Sejak itu, Arif mulai mengubah cara hidupnya. Ia memilih berhenti dari pekerjaannya di perusahaan besar dan membuka usaha kecil di rumah. “Sekarang, kalau aku kerja di dapur, anakku ikut bantu. Istriku yang urus pesanan. Kami kerja bareng, makan bareng, istirahat bareng. Hidup sederhana, tapi rasanya kaya.”
Kalimat “hidup sederhana tapi kaya” itu terus terngiang di kepala saya. Kaya, dalam pengertian Arif, bukan soal angka di tabungan. Tapi tentang kemampuan menikmati waktu bersama orang yang kita sayangi. Tentang bisa makan siang tanpa tergesa. Tentang bisa menemani anak belajar tanpa membuka laptop di sela-sela.
Dalam hidup modern yang serba cepat, menikmati waktu adalah bentuk perlawanan kecil. Kita hidup di dunia yang mengukur nilai manusia dari produktivitas—berapa banyak pekerjaan diselesaikan, berapa target tercapai, berapa menit tersisa sebelum tenggat. Tapi barangkali, kebijaksanaan justru lahir ketika kita berani berhenti sejenak dan mengakui: hidup tak harus selalu dikejar.
Ketika saya menutup laptop malam itu, saya melihat anak saya tertidur di sofa dengan televisi yang masih menyala. Saya matikan lampu dan menyelimutinya pelan. Dalam hati, saya tersenyum. Mungkin inilah yang Arif maksud dengan “menikmati waktu”—momen kecil yang tidak pernah masuk dalam laporan kerja, tapi menjadi catatan paling berharga dalam hidup.
Beberapa hari kemudian, saya mengirim pesan kepada Arif: “Kau benar, hidup ini anugerah. Dan waktu memang hadiah paling mewah.” Ia membalas singkat:
“Selamat datang di dunia orang-orang yang tidak sibuk, tapi bahagia.”
Saya tertawa kecil membaca pesannya. Di luar sana, jam terus berdetak. Tapi entah kenapa, malam itu waktu terasa lebih lembut. Mungkin, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, saya benar-benar menikmatinya.[]
Muhibbullah Azfa Manik







