Awalnya Jokowi mengerek naik Gibran ke gelanggang pencalonan Wapres —tak berkaca diri dan sesungguhnya hanya mempermalukan keluarganya sendiri dikarenakan ketakpantasan dan ketaklayakannya —dengan cara membalak MK dipimpin iparnya Anwar Usman dan mengikat koalisi partai oligarki tersandera KIM mendukungnya. Gibran hanya dengan waktu 15 hari lolos pencalonan Wapres.
Dan seperti yang telah diduga pencalonan Pragib dan pertarungannya di gelanggang Pilpres 2024 sangat dipenuhi kecurangan dan kelicikan TSM.
Kemenangan yang dirasakan tak bulat dan tak puas oleh publik masyarakat kelas menengah yang paling menyadari secara kewarasan akal sehat, amiqus quriae kesadaran hukum, etika dan moralitas serta tebalnya religiusitas hanya menunjukkan arogansi kewirangan yang sesungguhnya hanya mempermalukan secara telanjang diri mereka sendiri.
Membuat Prabowo seperti apa yang sudah dialaminya dulu ikut terseret mengalami lagi bagaimana kemunculan perasaan ambigu dan ambivalen itu betapa begitu sangat menyiksanya.
Kali ini pun menghantui jabatan Presidennya —ketika sebagian pendukungnya yang tak bulat dan tak puas itu telah mencampakkan harga dirinya dengan mem-framing dirinya tak lebih sekedar hanya “petugas” dan atau “boneka” Jokowi. Bahkan, benarkah karena tersandera?
Dalam relung hati dan perenungan concentia Prabowo itu hanya akan menimbulkan kecemasan dan kekuatiran yang sangat menekan bakal menimbulkan gangguan negara dan jalannya ketenangan pemerintahan yang tengah dipimpinnya:
Bak api dalam sekam cepat atau lambat jika hal itu dibiarkan berlama-lama akan menjadi bom waktu yang akan mengakibatkan terjadinya polarisasi rakyat dan disintegrasi bangsa.
Itu sudah disadari olehnya, seperti dituliskannya dalam buku serial semenjak 2012, 2014, 2019 dan 2022 Paradoks Indonesia, justru pinutur “mikul duwul mendem jero” yang dialami sekarang mengandung resiko lebih besar bisa memenjarakan dirinya dan mengakibatkan suatu peristiwa yang paling tak diinginkan dirinya, Indonesia bubar.
Nurbuah untuk keluar dari wisik buruk “mikul duwur mendem jero” bagi Prabowo Presiden sekarang , kuncinya adalah adanya keberanian Prabowo menegakkan kepemimpinan kesejatian dan kemandiriannya untuk bergerak bersama rakyat mewujudkan Indonesia berdaulat.
Tak ada yang lain. Tak ada lagi Jokowi dengan kroni-kroninya.
Tak ada lagi oligarki-oligarki yang mengerubutinya.
Wallahua’lam Bisshawab[]
Babakan Mustikasari, 9 Januari 2025
Dairy Sudarman, Pemerhati politik dan kebangsaan, Pemred VT Media center Indonesia+







